3.
Teori-teori Leadership
a.
Definisi leadership
Definisi
leadership atau kepemimpinan menurut
pada ahli :
#
Moejiono
Kepemimpinan
atau leadership merupakan ilmu terapan dari ilmu-ilmu social, sebab
prinsip-prinsip dan rumusannya diharapkan dapat mendatangkan manfaat bagi
kesejahteraan manusia.
#
Tead
Kepemimpinan
yaitu kegiatan atau seni mempengaruhi orang lain agar mau bekerjasama yang
didasarkan pada kemampuan orang tersebut untuk membimbing orang lain dalam
mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan kelompok.
#
Young
Lebih
terarah dan terperinci dari definisi sebelumnya. Menurutnya kepemimpinan adalah
bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong
atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu yang berdasarkan penerimaan oleh
kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tepat bagi situasi yang khusus.
b.
Teori-teori kepemimpinan partisipatif
§ Teori
X dan Y dari Douglas Mx.Geogor
Teori prilaku adalah teori yang
menjelaskan bahwa suatu perilaku tertentu dapat membedakan pemimpin dan bukan
pemimpin pada orang-orang. Konsep teori X dan Y dikemukakan oleh Douglas
McGregor dalam buku The Human Side Enterprise di mana para manajer / pemimpin
organisasi perusahaan memiliki dua jenis pandangan terhadap para pegawai /
karyawan yaitu teori x atau teori y.
A. Teori X
Teori ini menyatakan bahwa pada
dasarnya manusia adalah makhluk pemalas yang tidak suka bekerja serta senang
menghindar dari pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Pekerja
memiliki ambisi yang kecil untuk mencapai tujuan perusahaan namun menginginkan
balas jasa serta jaminan hidup yang tinggi. Dalam bekerja para pekerja harus
terus diawasi, diancam serta diarahkan agar dapat bekerja sesuai dengan yang
diinginkan perusahaan.
B. Teori Y
Teori ini memiliki anggapan bahwa
kerja adalah kodrat manusia seperti halnya kegiatan sehari-hari lainnya.
Pekerja tidak perlu terlalu diawasi dan diancam secara ketat karena mereka
memiliki pengendalian serta pengerahan diri untuk bekerja sesuai tujuan
perusahaan. Pekerja memiliki kemampuan kreativitas, imajinasi, kepandaian serta
memahami tanggung jawab dan prestasi atas pencapaian tujuan kerja. Pekerja juga
tidak harus mengerahkan segala potensi diri yang dimiliki dalam bekerja.
§ Teori
sistem 4 dari Rensis Likert
Manajemen Sistem
Tahun 1960-an Likert
dikembangkan empat sistem manajemen yang menggambarkan hubungan, keterlibatan,
dan peran antara manajemen dan bawahan dalam pengaturan industri.Keempat sistem
adalah hasil dari penelitian bahwa ia telah dilakukan dengan sangat produktif
supervisor dan anggota tim mereka Perusahaan Asuransi Amerika. Belakangan, ia
dan Jane G. Likert merevisi sistem berlaku untuk pengaturan pendidikan. Mereka
awal revisi itu dimaksudkan untuk menjelaskan peran kepala sekolah, siswa, dan
guru; akhirnya individu-individu lain di dunia akademik dimasukkan seperti
pengawas, administrator, dan orangtua
Eksploitatif sistem
otoritatif (I)
Dalam jenis sistem
manajemen tugas pegawai / bawahan adalah untuk mematuhi keputusan yang dibuat
oleh manajer dan mereka yang memiliki status yang lebih tinggi daripada mereka
dalam organisasi. Bawahan tidak berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.
Organisasi yang bersangkutan hanya tentang menyelesaikan pekerjaan. Organisasi
akan menggunakan rasa takut dan ancaman untuk memastikan karyawan menyelesaikan
pekerjaan ditetapkan. Tidak ada kerja tim yang terlibat.
'Kebajikan sistem
otoritatif (II)'
Seperti halnya dalam
sebuah sistem berwibawa eksploitatif, keputusan dibuat oleh orang-orang di
bagian atas organisasi dan manajemen. Namun termotivasi karyawan melalui
penghargaan (untuk kontribusi mereka) daripada ketakutan dan ancaman. Informasi
dapat mengalir dari bawahan kepada manajer tetapi terbatas pada "manajemen
apa yang ingin dengar".
Sistem konsultatif (III)
Dalam jenis sistem
manajemen, bawahan termotivasi oleh penghargaan dan tingkat keterlibatan dalam
proses pengambilan keputusan. Manajemen konstruktif akan menggunakan bawahan
mereka ide-ide dan pendapat. Namun keterlibatan tidak lengkap dan keputusan
besar masih dibuat oleh manajemen senior. Ada aliran informasi yang lebih besar
(daripada dalam sistem berwibawa murah hati) dari bawahan kepada manajemen.
Meskipun informasi dari bawahan kepada manajer tidak lengkap dan eufimistis.
Partisipatif (kelompok) system (IV)
Manajemen sepenuhnya
percaya pada bawahan / karyawan. Ada banyak komunikasi dan bawahan sepenuhnya
terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Bawahan nyaman menyatakan pendapat
dan ada banyak kerja sama tim. Tim dihubungkan bersama-sama oleh orang-orang,
yang menjadi anggota lebih dari satu tim. Likert panggilan orang di lebih dari
satu kelompok "menghubungkan pin". Karyawan di seluruh organisasi
merasa bertanggung jawab untuk mencapai tujuan organisasi. Tanggung jawab ini
terutama sebagai bawahan motivasi ditawarkan imbalan ekonomi untuk mencapai
tujuan organisasi yang mereka telah berpartisipasi dalam pengaturan.
“keempat system menyediakan tempat untuk memulai sebuah teori manajemen dimana
variable yang termasuk dalam system kasual dikonsetualisasikan sebagai variable
yang melalui dampaknya pada organisasi intervensi variable ( loyalitas, sikap,
motivasi, dll) mempengaruhi hasil akhir variable prestasi organisasi, yang
diukur dengan hal-hal seperti produktivita, biaya dan penghasilan(brewer,
1968).Sistem IV dianggap sebagai yang paling produktif dan ideal dalam
pengaturan kerja. Ketika dikombinasikan dengan manajemen yang baik dan dapat
dicapai tujuan, sistem ini telah terbukti dapat menghasilkan lebih banyak
kesetiaan, produksi lebih baik, motivasi tinggi, dan lebih banyak keuntungan
daripada sistem lain .
§ Theory
of leadership pattern choice dan Tannenbaum dan Scinidt
Tannenbaum dan Schmidt Continuum
adalah sebuah model sederhana yang menunjukkan hubungan antara tingkat
kebebasan yang seorang manajer memilih untuk diberikan kepada tim, dan tingkat
kewenangan yang digunakan oleh manajer. Sebagai kebebasan tim meningkat,
sehingga otoritas manajer berkurang. Ini adalah cara yang positif bagi kedua
tim dan manajer untuk berkembang. Sementara model Tannenbaum dan Schmidt
keprihatinan kebebasan didelegasikan ke grup, prinsip yang mampu menerapkan
berbagai tingkat kebebasan didelegasikan erat berkaitan dengan 'delegasi
tingkat' pada delegasi halaman. Sebagai seorang manajer, salah satu tanggung
jawab Anda adalah untuk mengembangkan tim Anda. Anda harus mendelegasikan dan
meminta sebuah tim untuk membuat keputusan sendiri untuk berbagai tingkatan
sesuai dengan kemampuan mereka.
Berikut adalah Tannenbaum dan Schmidt Continuum didelegasikan tingkat
kebebasan, dengan beberapa tambahan penjelasan bahwa seharusnya membuat lebih
mudah untuk memahami dan menerapkan :
1)
Manajer memutuskan dan mengumumkan
keputusan.
2)
Manajer memutuskan dan kemudian 'menjual'
keputusan untuk kelompok.
3)
Manajer menyajikan latar belakang
keputusan dengan ide-ide dan mengundang pertanyaan.
4)
Manajer menyarankan keputusan sementara
dan mengundang diskusi tentang hal itu.
5)
Manajer menyajikan situasi atau masalah,
mendapat saran, kemudian memutuskan.
6)
Manajer menjelaskan situasi,
mendefinisikan parameter dan meminta tim untuk memutuskan.
7)
Manajer memungkinkan tim untuk
mengidentifikasi masalah, mengembangkan pilihan, dan memutuskan tindakan, dalam
batas-batas yang diterima manajer.
c.
Modern choice approach to participation
Model ini melihat teori kepemimpinan
yang menyediakan seperangkat peraturan untuk menetapkan bentuk dan jumlah
peserta pengambil keputusan dalam berbagai keadaan. Teori Yetton dan Vroom
mengemukakan bahwa kepuasan dan prestasi disebabkan oleh perilaku bawahan yang
pada gilirannya dipengaruhi oleh perilaku atasan, karakteristik bawahan dan
faktor lingkungan. Salah satu tugas utama dari seorang pemimpin adalah membuat
keputusan. Karena keputusan yang dilakukan para pemimpin sering kali sangat
berdampak kepada para bawahan mereka, maka jelas bahwa komponen utama dari
efektifitas pemimpin adalah kemampuan mengambil keputusan yang sangat
menentukan keberhasilan yang bersangkutan melaksanakan tugas-tugas pentingnya.
Pemimpin yang mampu membuat keputusan dengan baik akan lebih efektif dalam
jangka panjang dibanding dengan mereka yang tidak mampu membuat keputusan
dengan baik. Dalam mengambil keputusan, bagaimana pemimpin memperlakukan
bawahannya. Dengan kata lain seberapa jauh para bawahannya diajak
berpartisipasi dalam pengambilan keputusan. Sebagaimana telah kita pahami bahwa
partisipasi bawahan dalam pengambilan keputusan dapat meningkatkan kepuasan
kerja, mengurangi stress, dan meningkatkan produktivitas.
Teori kepeminmpinan vroom & yetton adalah jenis teori kontingensi yang
menitikberatkan pada hal pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin.
Dalam hal ini ada 5 jenis cirri pengambilan keputusan dalam teori ini :
1) A-I
: pemimpin mengambil sendiri keputusan berasarkan informasi yang ada padanya
saat itu.
2) A-II
: pemimpin memperoleh informasi dari bawahannya dan mengambil keputusan
berdasarkan informasi yang didapat. jadi peran bahawan hanya memberikan
informasi, bukan memberikan alternatif.
3) C-I
: pemimpin memberitahukan masalah yang sedang terjadi kepada bawahan secara
pribadi, lalu kemudian memperoleh informasi tanpa mengumpulkan semua bawahannya
secara kelompok, setelah itu mengambil keputusan dengan mempertimbangkan/ tidak
gagasan dari bawahannya.
4) C-II
: pemimpin mengumpulkan semua bawahannya secara kelompok, lalu menanyakan
gagasan mereka terhadap masalah yang sedang ada, dan mengambil keputusan dengan
mempertimbangkan/tidak gagasan bawahannya
5) G-II
: pemimpin memberitahukan masalah kepada bawahanya secara berkelompok, lalu
bersama – sama merundingkan jalan keluarnya, dan mengambil keputusan yang
disetujui oleh semua pihak.
contoh kasusnya, dalam sebuah toko kue, pemimpin toko akan membicarakan masalah
yang terjadi, misalnya cara menarik minat pembeli agar menjadi pelanggan tetap
tokonya. Pemilik toko akan mengumpulkan semua karyawannya dan menanyakan
pendapat mereka. pemilik akan menampung semua gagasan mereka, lalu memilih
gagasan yang dianggap paling menarik dan disetujui oleh semua karyawannya. Contoh
kasus diatas, itu sesuai dengan cirri pengambilan keputusan G-II yang
dikemukakan oleh vroom & yetton. Dan menurut saya, ciri G-II adalah yang
paling layak digunakan.
d.
Contingency theory of leadership dari Fiedter
Model
Contingency dari kepemimpinan yang efektif dikembangkan oleh Fiedler (1967).
Menurut model ini, maka the performance
of the group is contingen upon both the motivasional system of the leader and
the degree to which the leader has control and influence in a particular
situation, the situational favorableness (Fiedler, 1974:73).
Dengan
perkataan lain, tinggi rendahnya prestasi kerja satu kelompok dipengaruhi oleh
sistem motivasi dari pemimpin dan sejauh mana pemimpin dapat mengendalikan dan
mempengaruhi suatu situasi tertentu.
Untuk
menilai sistem motivasi dari pemimpin, pemimpin harus mengisi suatu skala sikap
dalam bentuk skala semantc differential suatu skala yang terdiri dari 16
butir skala bipolar. Skor yang diperoleh menggambarkan jarak psikologis
yang dirasakan oleh peminpin antara dia sendiri dengan “rekan kerja yang paling
tidak disenangi” (Least Prefered Coworker
= LPC). Skor LPC yang tinggi menunjukkan bahwa pemimpin melihat rekan kerja
yang paling tidak disenangi dalam suasana menyenangkan. Dikatakan bahwa
pemimpin dengan skor LPC yang tinggi ini berorientasi ke hubungan (relationship oriented). Sebaliknya skor
LPC yang rendah menunjukkan derajat kesiapan pemimpin untuk menolak mereka yang
dianggap tidak dapat bekerja sama. Pemimpin demikian, lebih berorientasi ke
terlaksananya tugas (task oriented).
Fiedler menyimpulkan bahwa:
1) Pemimpin
dengan skor LPC rendah (pemimpin yang berorientasi ke tugas) cenderung untuk
berhasil paling baik dalam situasi kelompok baik yang menguntungkan, maupun
yang sangat tidak menguntungkan pemimpin.
2) Pemimpin
dengan skor LPC tinggi ( pemimpin yang berorientasi ke hubungan) cenderung
untuk berhasil dengan baik dalam situasi kelompok yang sederajat dengan
keuntungannya.
Sebagai landasan studinya, Fiedler menemukan 3 (tiga) dimensi kritis daripada
situasi / lingkungan yang mempengaruhi gaya Pemimpin yang sangat efektif,
yaitu:
a. Kekuasaan
atas dasar kedudukan/jabatan (Position power)
Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan ini berbeda dengan sumber kekuasaan
yang berasal dari tipe kepemimpinan yang kharismatis, atau keahlian (expertise power). Berdasarkan atas kekuasaan
ini seorang pemimpin mempunyai anggota-anggota kelompoknya yang dapat
diperintah / dipimpin, karena ia bertindak sebagai seorang Manager, di mana
kekuasaan ini diperoleh berdasarkan atas kewenangan organisasi (organizational authority).
b. Struktur
tugas (task structure) Pada dimensi ini Fiedler berpendapat bahwa selama
tugas-tugas dapat diperinci secara jelas dan orang-orang diberikan tanggung
jawab terhadapnya, akan berlainan dengan situasi di mana tugas-tugas itu tidak
tersusun (unstructure) dan tidak jelas.
Apabila tugas-tugas tersebut telah jelas, mutu daripada penyelenggaraan kerja
akan lebih mudah dikendalikan dan anggota-anggota kelompok dapat lebih jelas
pertanggungjawabannya dalam pelaksanaan kerja, daripada apabila tugas-tugas itu
tidak jelas atau kabur.
c. Hubungan
antara Pemimpin dan anggotanya (Leader-member
relations)
Dalam dimensi ini Fiedler menganggap sangat penting dari sudut pandangan
seorang pemimpin. Kekuasaan atas dasar kedudukan / jabatan dan struktur tugas
dapat dikendalikan secara lebih luas dalam suatu badan usaha / organisasi
selama anggota kelompok suka melakukan dan penuh kepercayaan terhadap
kepimpinannya (hubungan yang baik antara pemimpin-anggota).
Berdasarkan
ketiga variabel ini Fiedler menyusun delapan macam situasi kelompok yang
berbeda derajat keuntungannya bagi pemimpin. Situasi dengan dengan derajat
keuntungan yang tinggi misalnya adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota
baik, struktur tugas tinggi, dan kekuasaan kedudukan besar. Situasi yang paling
tidak menguntungkan adalah situasi dimana hubungan pemimpin-anggota tidak baik,
struktur tugas rendah dan kekuasaan kedudukan sedikit.
e.
Path goal theory
Path-Goal Theory atau model arah tujuan
ditulis oleh House (1971) menjelaskan kepemimpinan sebagai keefektifan pemimpin
yang tergantung dari bagaimana pemimpin memberi pengarahan, motivasi, dan
bantuan untuk pencapaian tujuan para pengikutnya. Bawahan sering berharap
pemimpin membantu mengarahkan mereka dalam mencapai tujuan. Dengan kata lain
bawahan berharap para pemimpin mereka membantu mereka dalam pencapaian
tujuan-tujuan bernilai mereka.
Ide di atas memainkan peran penting
dalam House’s path-goal theory yang menyatakan bahwa kegiatan-kegiatan pemimpin
yang menjelaskan bentuk tugas dan mengurangi atau menghilangkan berbagai
hambatan akan meningkatkan persepsi para bawahan bahwa bekerja keras akan
mengarahkan ke kinerja yang baik dan kinerja yang baik tersebut selanjutnya
akan diakui dan diberikan ganjaran.
Path Goal Theory menekankan pada cara-cara pemimpin memfasilitasi kinerja kerja
dengan menunjukkan pada bawahan bagamana kinerja diperoleh melalaui pencapaian
rewards yang diinginkan. Path Goal theory juga mengatakan bahwa kepuasan kerja
dan kinerja kerja tergantung pada expectancies bawahan. Harapan-harapan bawahan
bergantung pada ciri-ciri bawahan dan lingkungan yang dihadapi oleh bawahan.
Kepuasan dan kinerja kerja bawahan bergantung pada leadership behavior dan
leadership style.
Ada 4 macam leadership style :
1) Supportive Leadership :
Gaya kepemimpinan ini menunjukkan perhatian pada kebutuhan pribadi karyawannya.
Pemimpin jenis ini berusaha mengembangkan kepuasan hubungan interpersonal
diantara para karyawan dan berusaha menciptakan iklim kerja yang bersahabat di
dalam organisasi.
2) Directive Leadership :
Pemimpin yang memberikan bimbingan khusus pada Karyawannya dengan menetapkan
standar kinerja, mengkoordinasi kinerja kerja dan meminta karyawan untuk
mengikuti aturan aturan organisasi.
3) Achievement Oriented Leadership
: Pemimpin yang menetapkan tujuan yang menantang pada bawahannya dan meminta
bawahan untuk mencapai level performens yang tinggi
4) Participative Leadership
: Pemimpin yang menerima saran-saran dan nasihat-nasihat bawahan dan
menggunakan informasi dari bawahan dalam pengambilan keputusan organisasi. Hal
yang menentukan keberhasilan dari setiap jenis kepemimpinan tersebut adalah subordinate characteristics (contohnya:
Karyawan yang internal l locus of control atau external locus of control,
karyawan yang mempunyai need achievement yang tinggi atau need affiliation yang
tinggi, dll.) dan environmental factors (system kewenangan dalam organisasi).
Contoh kasus yang sedang dihadapi oleh yahoo
San Francisco - Yahoo kembali melakukan bersih-bersih dengan membuang produk
yang dinilai kurang menghasilkan keuntungan. Ini adalah bagian dari strategi
Yahoo agar fokus dan melakukan efisiensi dalam operasional perusahaannya.
Sumber
:
Munandar,
Ashar Sunyoto . (2001) , Psikologi
Industri dan Organisasi, Jakarta :. Universitas Indonesia
Vroom,
VH dan Yetton, PW (1973). Kepemimpinan
dan pengambilan keputusan. Pittsburg: University of Pittsburg
Fitriani.(2013).Pengaruh Gaya Kepemimpinan Partisipatif
terhadap Kinerja Pegawai
Pada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Timur. eJournal Administrasi
Negara, 1(3) 2013 : 989-1002
http://ria-teori-teorikepemimpinan.blogspot.com/2009/10/teori-teori-kepemimpinan.html