Senin, 29 April 2013


Tulisan 2
Pengertian Stress
Arti Penting Stress

            Kita semua pernah mengalami stress.Tetapi sebenarnya stress tidak selalu jelek.Stress dalam tingkat yang sedang itu perlu untuk menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas yang ada , dan membantu orang melakukan penyesuaian.Sistem syaraf juga memerlukan rangsangan agar bisa tetap terlatih dan selanjutnya bisa berfungsi dengan baik.
Dari sudut pandang ilmu kedokteran, menurut Hans Selye seorang fisiologi dan pakar stress yang dimaksud dengan stress adalah suatu respon tubuh yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya. Jadi merupakan repons automatik tubuh yang bersifat adaptif pada setiap perlakuan yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk mempertahankan kondisi fisis yang optimal suatu organisme. Dari sudut pandang psikologis stress didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang disebabkan oleh kebutuhan psikologis tubuh atau disebabkan oleh situasi lingkungan atau sosial yang potensial berbahaya, memberikan tantangan, menimbukan perubaha-perubahan  atau memerlukan mekanisme pertahanan seseorang. Suwondo(1996) mendifinisikan stess sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan representatif dari transaksi khas dan problematika antara seseorang dengan lingkungannya.

Efek-efek Stress (Hans Selye)
            Sindrom adaptasi umum (general adaption syndrom/ GAS) yang dikemukakan Seyle menggambarkan efek umum pada tubuh remaja akibat stres.
GAS terdiri dari tiga tahap:
            1.      Peningkatan
            2.      Pertahanan
            3.      Kelelahan
Tidak semua stres itu buruk - Seyle menyebut stres yang baik sebagai "eustress". Kritik yang ditujukan Seyle mengatakan bahwa kita juga perlu mengetahui faktor-faktor seperti strategi penanganan stres yang dilakukan remaja. Individu mengenali keberadaan stres dan mencoba menghilangkannya. Otot menjadi lemah, suhu tubuh menurun dan tekanan darah juga turun. Kemudian terjadi apa yang disebut countershock,dimana pertahanan terhadap stres mulai muncul; korteks adrenal mulai membesar, dan pengeluaran hormon meningkat. Pada tahap pertahanan, tubuh individu dipenuhi oleh hormon stres; tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh dan pernapasan semua meningkat. Peneliti lain mengkritik pendapat Selye dengan menyatakan bahwa stres bukan hanya dipandang sebagai reaksi, namun stres juga harus dilihat sebagai fungsi dari individu yang menafsirkan situasi. Reaksi orang tidak sama terhadap stressor yang sama, tergantung bagaimana orang mempersepsikan situasi yang dihadapi karena peta kognitif seseorang berbeda-beda.

Tipe-tipe Stress
Adapula yang membagi stressor menjadi:
       a.       Stressor fisis : seperti panas, dingin, suara bising dan sebagainya
       b.      Stressor sosial : seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, pekerjaan, karir, masalah      keluarga, 
             hubungan intepersonal, dan lain-lain.
       c.       Stessor psikis misalnya frustasi, rendah diri,perasaan berdosa, masa depan yang tidak jelas dan 
             sebagainya.

      a)      Tekanan
Tekanan timbul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat berasal dalam diri individu. Tekanan juga dapat berasal dari luar diri individu. Tekanan sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari  dan memiliki bentuk yang berbeda-beda pada setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat menghabiskan sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian sasarannya, bahkan bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive. Tekanan dapat berasal dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari keduanya.Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal misalnya berupa tekanan waktu atau peranyang harus dijalani seseorang, atau juga dpat berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat antara lain dalam pekerjaan, sekolah dan mendapatkan pasangan hidup.
      b)      Frustrasi
Muncul karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan.Frustasi adaa yang bersifat intrinsik (cacat  badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian, pengangguran, perselingkuhan, dll)     
c)   Konflik
Timbulkan karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan, atau tujuan. Bentuknya :
1.      approach-approach conflict
Terjadi apabila individu harus satu diantara dua alternatif yang sama-sama disukai
2.      approach-avoidance conflict
Terjadi bila individu diharapkan pada dua pilihan yang sama- sama tidak disenangi. Konflik jenis ini lebih sulit diputuskan dan memerlukan lebih banyak tenaga dan waktu untuk menyelesaikannya karena masing-masing alternatif memilki konsekuensi yang tidak menyenangkan.
3.      avoidance-avoidance conflict.
Adalah situasi dimana individu merasa tertarik sekaligus tidak menyukai atau ingin menghindar dari seseorang atau suatu objek yang sama,
      d)     Kecemasan
Kecemasan merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran, kegelisahan, ketegangan dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan akan terjadinya sesuatu yang buruk.

Symptom Reducing Responses Stress dan Pendekatan Problem Solving
            Richard Lazarus (1966, 1990, 1993) percaya bahwa penanganan stres atau copingterdiri dari dua bentuk. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Sebagai contoh, bila anda memiliki masalah dengan salah satu mata kuliah, anda bisa mendatangi pusat keterampilan belajar dikampus anda dan mengikuti salah satu program pelatihan untuk mempelajari bagaimana cara belajar yang lebih efektif.
Coping yang berfokus pada emosi (emotion-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional terutama dengan menggunakanpenilaian defensif. Pada strategi penanganan stres berfokus pada emosi, seorang remaja bisa menghindari sesuatu, merasionalisasi apa yang telah terjadi padanya, manyangkal bahwa hal itu tengah terjadi, atau menertawakannya.
Walaupun demikian, seiring dengan serjalannya waktu remaja akan lebih menggunakan strategicoping yang berfokus pada masalah daripada strategi coping yang berfokus pada emosi. Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback.
Melakukan sugesti untuk diri sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada Tuhan).

Tulisan 3
Coping Stress
Pengertian Coping dan Jenis-jenis Coping

Lazarus mendefinisikan coping sebagai suatu cara suatu individu untuk mengatasi situasi atau masalah yang dialami baik sebagai ancaman atau suatu tantangan yang menyakitkan. Dengan perkataan lain strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Umumnya coping strategi  dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengatasi berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya. dan coping dipandang sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan tersebut. Namun ingat coping dukanlah suatu usaha untuk menguasai seluruh situasi yang menekan, karena tidak semua situasi tertekan dapat benar-benar dikuasai.
Lazarus & Folkman (1986) mengidentifikasi berbagai jenis strategi coping, baik secara problem-focused maupun emotion-focused, antara lain :
      1.      Planful problem solving yaitu usaha untuk mengubah situasi, dan menggunakan usaha untuk memecahkan 
            masalah.
      2.      Confrontive coping yaitu menggunakan usaha agresif untuk mengubah situasi, mencari penyebabnya dan 
            mengalami resiko.
      3.      Seeking social support yaitu menggunakan usaha untuk mencari sumber dukungan informasi, dukungan 
            sosial dan dukungan emosional.
      4.     Accepting responsibility yaitu mengakui adanya peran diri sendiri dalam masalah.
      5.      Distancing yaitu menggunakan usaha untuk melepaskan dirinya, perhatian lebih kepada hal yang dapat 
            meciptakan suatu pandang positif.
      6.      Escape-avoidance yaitu melakukan tingkah laku untuk lepas atau menghindari.
      7.      Self-control yaitu menggunakan usaha untuk mengatur tindakan dan perasaan diri sendiri. Positive 
            reappraisal yaitu menggunakan usaha untuk menciptakan hal-hal positif dengan memusatkan pada diri   
           sendiri dan juga menyangkut religiusitas.

Jenis-jenis Coping yang Konstruktif dan Positif (sehat)
Berdasarkan jenis koping menurut Lazarus dan Folkman, saya menyimpulkan bahwa :
Koping konstruktif meliputi :
      ·         Escape
    Konstruktif karena korban stres berusaha menghilangkan stresnya dengan beralih pada hal negatif seperti minuman keras, rokok, narkoba, dll.
      ·         Acceptance.
Suatu kondisi dimana si korban menerima saja keadaan stresnya itu dan tidak melakukan upaya sama sekali untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi gejala stresnya tersebut. Bila dibiarkan akan mengganggu kesehatan fisiknya secara tidak langsung.
      ·         Denial (avoidance)
Dimana si korban mengikari masalah yang ada pada dirinya. Hal ini pun tidak baik karena dia hanya memendam masalah yang dimilikinya sehingga sewaktu – waktu stresnya tersebut bisa muncul lagi. Strategi ini bersifat sementara tidak permanen
 ·    Avoidant coping
Menurut saya strategi ini juga negatif, karena si korban berusaha menarik dirinya dari kondisi yang membuatnya stres. Seharusnya si korban membuat suatu penyelesaian masalah bukan menarik dirinya, bila pada suatu saat dia harus berhadapan lagi dengan kondisi yang ia hindari maka stres akan menerpa dirinya lagi.

Sedangkan Coping yang positif :
Jenis-jenis koping yang positif (sehat), Harmer dan Ruyon (1984) 
1.      Penalaran (reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif untuk mengeksplorasi bebagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian memilih salah satu alternate yang dianggap paling menguntungkan.
2.      Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan antara pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan dengan yang tidak berkaitan.
3.      Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Pada kenyataannya, justru banyak individu yang tidak mampu berkonsetrasi ketika menghadappi tekanan.
4.      Penegasan diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik emosional yang menjadi pemicu stress dengan cara mengekpresikan perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya secara langsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain. Menjadi asertif tidak sama dengan tidakan agresi. Sertif adalah menegaskan apa yang dirasakan, dipikirkan oleh individu yang bersangkutan, namun dengan menghormati pemikiran dan perasaan orang lain.
5.      Pengamatan diri (self observation)
Pengamatan diri sejajar dengan introspreksi, yaitu individu melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran sendiri atau mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, cirri, sifat sendiri, dan seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin mendalam. Pengamatan diri mengandaikan individu memilki kemampuan untuk melakukan transedensi, yaitu kemampuan untuk membuat jarak antara diri yang diamati dengan diri yang mengamati 

Sumber :
  • Atkinson Rita L. dan Hilgard E.R. (1999). Pengantar Psikologi.
  • Dr. Kartini Kartono, Hygiene Mental, CV. Mandar Maju, bandung, 2000
  • Gaspersz, Vincent. 2007. Team Oriented Problem Solving. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama



Tidak ada komentar:

Posting Komentar