Tulisan 2
Pengertian
Stress
Arti Penting Stress
Kita semua pernah mengalami stress.Tetapi sebenarnya
stress tidak selalu jelek.Stress dalam tingkat yang sedang itu perlu untuk
menghasilkan kewaspadaan dan minat pada tugas yang ada , dan membantu orang
melakukan penyesuaian.Sistem syaraf juga memerlukan rangsangan agar bisa tetap
terlatih dan selanjutnya bisa berfungsi dengan baik.
Dari sudut pandang ilmu
kedokteran, menurut Hans Selye seorang fisiologi dan pakar stress yang dimaksud
dengan stress adalah suatu respon tubuh yang
tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya. Jadi
merupakan repons automatik tubuh yang bersifat adaptif pada setiap perlakuan
yang menimbulkan perubahan fisis atau emosi yang bertujuan untuk
mempertahankan kondisi fisis yang optimal suatu organisme. Dari sudut
pandang psikologis stress didefinisikan
sebagai suatu keadaan internal yang disebabkan oleh kebutuhan psikologis tubuh
atau disebabkan oleh situasi lingkungan atau sosial yang potensial berbahaya,
memberikan tantangan, menimbukan perubaha-perubahan atau memerlukan
mekanisme pertahanan seseorang. Suwondo(1996)
mendifinisikan stess sebagai suatu keadaan psikologik yang merupakan
representatif dari transaksi khas dan problematika antara seseorang dengan
lingkungannya.
Efek-efek Stress (Hans
Selye)
Sindrom adaptasi umum (general
adaption syndrom/ GAS) yang dikemukakan Seyle menggambarkan efek umum pada
tubuh remaja akibat stres.
GAS terdiri dari
tiga tahap:
1.
Peningkatan
2.
Pertahanan
3.
Kelelahan
Tidak semua stres itu
buruk - Seyle menyebut stres yang baik
sebagai "eustress". Kritik yang ditujukan Seyle mengatakan
bahwa kita juga perlu mengetahui faktor-faktor seperti strategi penanganan
stres yang dilakukan remaja. Individu mengenali keberadaan stres dan mencoba
menghilangkannya. Otot menjadi lemah, suhu tubuh menurun dan tekanan darah juga
turun. Kemudian terjadi apa yang disebut countershock,dimana pertahanan
terhadap stres mulai muncul; korteks adrenal mulai membesar, dan pengeluaran
hormon meningkat. Pada tahap pertahanan, tubuh individu dipenuhi oleh hormon
stres; tekanan darah, detak jantung, suhu tubuh dan pernapasan semua meningkat. Peneliti
lain mengkritik pendapat Selye dengan menyatakan bahwa stres bukan hanya
dipandang sebagai reaksi, namun stres juga harus dilihat sebagai fungsi dari
individu yang menafsirkan situasi. Reaksi orang tidak sama terhadap stressor
yang sama, tergantung bagaimana orang mempersepsikan situasi yang dihadapi
karena peta kognitif seseorang berbeda-beda.
Tipe-tipe Stress
Adapula yang membagi stressor menjadi:
a. Stressor fisis
: seperti panas, dingin, suara bising dan sebagainya
b. Stressor sosial
: seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, pekerjaan, karir,
masalah keluarga,
hubungan intepersonal, dan
lain-lain.
c. Stessor psikis misalnya
frustasi, rendah diri,perasaan berdosa, masa depan yang tidak jelas dan
sebagainya.
a) Tekanan
Tekanan
timbul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat berasal dalam diri individu.
Tekanan juga dapat berasal dari luar diri individu. Tekanan sering ditemui
dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki bentuk yang berbeda-beda
pada setiap individu. Tekanan dalam beberapa kasus tertentu dapat menghabiskan
sumber-sumber daya yang dimiliki dalam proses pencapaian sasarannya, bahkan
bila berlebihan dapat mengarah pada perilaku maladaptive. Tekanan dapat berasal
dari sumber internal atau eksternal atau kombinasi dari keduanya.Tekanan
internal misalnya adalah sistem nilai, self esteem, konsep diri dan komitmen
personal. Tekanan eksternal misalnya berupa tekanan waktu atau peranyang harus
dijalani seseorang, atau juga dpat berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari
di masyarakat antara lain dalam pekerjaan, sekolah dan mendapatkan pasangan
hidup.
b)
Frustrasi
Muncul
karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan.Frustasi adaa yang
bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik (kecelakaan, bencana alam, kematian, pengangguran, perselingkuhan, dll)
c) Konflik
Timbulkan
karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan,
atau tujuan. Bentuknya :
1.
approach-approach
conflict
Terjadi apabila individu harus satu
diantara dua alternatif yang sama-sama disukai
2.
approach-avoidance
conflict
Terjadi bila individu diharapkan
pada dua pilihan yang sama- sama tidak disenangi. Konflik jenis ini lebih sulit
diputuskan dan memerlukan lebih banyak tenaga dan waktu untuk menyelesaikannya
karena masing-masing alternatif memilki konsekuensi yang tidak menyenangkan.
3.
avoidance-avoidance
conflict.
Adalah situasi dimana individu
merasa tertarik sekaligus tidak menyukai atau ingin menghindar dari seseorang
atau suatu objek yang sama,
d)
Kecemasan
Kecemasan
merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran, kegelisahan,
ketegangan dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan
akan terjadinya sesuatu yang buruk.
Symptom Reducing
Responses Stress dan Pendekatan Problem Solving
Richard Lazarus (1966, 1990, 1993)
percaya bahwa penanganan stres atau copingterdiri dari dua
bentuk. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi
kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang
menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Sebagai contoh, bila anda
memiliki masalah dengan salah satu mata kuliah, anda bisa mendatangi pusat
keterampilan belajar dikampus anda dan mengikuti salah satu program pelatihan
untuk mempelajari bagaimana cara belajar yang lebih efektif.
Coping yang
berfokus pada emosi (emotion-focused coping) adalah istilah Lazarus
untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap
situasi stres dengan cara emosional terutama dengan menggunakanpenilaian
defensif. Pada strategi penanganan stres berfokus pada emosi, seorang remaja
bisa menghindari sesuatu, merasionalisasi apa yang telah terjadi padanya,
manyangkal bahwa hal itu tengah terjadi, atau menertawakannya.
Walaupun demikian, seiring dengan serjalannya waktu remaja akan lebih menggunakan strategicoping yang berfokus pada masalah daripada strategi coping yang berfokus pada emosi. Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback.
Walaupun demikian, seiring dengan serjalannya waktu remaja akan lebih menggunakan strategicoping yang berfokus pada masalah daripada strategi coping yang berfokus pada emosi. Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback.
Melakukan sugesti untuk
diri sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri
kita sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan
berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada Tuhan).
Tulisan
3
Coping
Stress
Pengertian Coping dan
Jenis-jenis Coping
Lazarus
mendefinisikan coping sebagai suatu cara suatu individu untuk mengatasi situasi
atau masalah yang dialami baik sebagai ancaman atau suatu tantangan yang
menyakitkan. Dengan perkataan lain strategi coping merupakan suatu proses
dimana individu berusaha untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang
menekan akibat dari masalah yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan
perubahan kognitif maupun perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya.
Umumnya coping
strategi dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengatasi
berbagai permasalahan yang melingkupi kehidupannya. dan coping dipandang
sebagai suatu usaha untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan
akibat dari tekanan tersebut. Namun ingat coping dukanlah suatu usaha untuk
menguasai seluruh situasi yang menekan, karena tidak semua situasi tertekan
dapat benar-benar dikuasai.
Lazarus & Folkman
(1986) mengidentifikasi berbagai jenis strategi coping, baik secara
problem-focused maupun emotion-focused, antara lain :
1.
Planful problem solving yaitu usaha
untuk mengubah situasi, dan menggunakan usaha untuk memecahkan
masalah.
2.
Confrontive coping yaitu
menggunakan usaha agresif untuk mengubah situasi, mencari penyebabnya dan
mengalami resiko.
3.
Seeking social support yaitu
menggunakan usaha untuk mencari sumber dukungan informasi, dukungan
sosial dan
dukungan emosional.
4. Accepting responsibility yaitu
mengakui adanya peran diri sendiri dalam masalah.
5.
Distancing yaitu menggunakan usaha
untuk melepaskan dirinya, perhatian lebih kepada hal yang dapat
meciptakan
suatu pandang positif.
6.
Escape-avoidance yaitu melakukan
tingkah laku untuk lepas atau menghindari.
7.
Self-control yaitu menggunakan
usaha untuk mengatur tindakan dan perasaan diri sendiri. Positive
reappraisal
yaitu menggunakan usaha untuk menciptakan hal-hal positif dengan memusatkan
pada diri
sendiri dan juga menyangkut religiusitas.
Jenis-jenis Coping yang
Konstruktif dan Positif (sehat)
Berdasarkan jenis koping menurut Lazarus dan Folkman, saya
menyimpulkan bahwa :
Koping konstruktif meliputi :
·
Escape
Konstruktif karena
korban stres berusaha menghilangkan stresnya dengan beralih pada hal negatif
seperti minuman keras, rokok, narkoba, dll.
·
Acceptance.
Suatu kondisi dimana
si korban menerima saja keadaan stresnya itu dan tidak melakukan upaya sama
sekali untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi gejala stresnya tersebut.
Bila dibiarkan akan mengganggu kesehatan fisiknya secara tidak langsung.
· Denial (avoidance)
Dimana si korban
mengikari masalah yang ada pada dirinya. Hal ini pun tidak baik karena dia
hanya memendam masalah yang dimilikinya sehingga sewaktu – waktu stresnya
tersebut bisa muncul lagi. Strategi ini bersifat sementara tidak permanen
· Avoidant coping
Menurut saya strategi ini juga negatif, karena
si korban berusaha menarik dirinya dari kondisi yang membuatnya stres.
Seharusnya si korban membuat suatu penyelesaian masalah bukan menarik dirinya,
bila pada suatu saat dia harus berhadapan lagi dengan kondisi yang ia hindari
maka stres akan menerpa dirinya lagi.
Sedangkan Coping yang
positif :
Jenis-jenis koping yang
positif (sehat), Harmer dan Ruyon (1984)
1. Penalaran
(reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif
untuk mengeksplorasi bebagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian
memilih salah satu alternate yang dianggap paling menguntungkan.
2. Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara
komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah
laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan antara
pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan dengan yang tidak berkaitan.
3. Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan
perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi
memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu
ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Pada
kenyataannya, justru banyak individu yang tidak mampu berkonsetrasi ketika
menghadappi tekanan.
4. Penegasan
diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik
emosional yang menjadi pemicu stress dengan cara mengekpresikan perasaan-perasaan
dan pikiran-pikirannya secara langsung tetapi dengan cara yang tidak memaksa
atau memanipulasi orang lain. Menjadi asertif tidak sama dengan tidakan agresi.
Sertif adalah menegaskan apa yang dirasakan, dipikirkan oleh individu yang
bersangkutan, namun dengan menghormati pemikiran dan perasaan orang lain.
5. Pengamatan
diri (self observation)
Pengamatan diri sejajar dengan introspreksi, yaitu
individu melakukan pengujian secara objektif proses-proses kesadaran sendiri
atau mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif, cirri, sifat sendiri,
dan seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri yang semakin
mendalam. Pengamatan diri mengandaikan individu memilki kemampuan untuk
melakukan transedensi, yaitu kemampuan untuk membuat jarak antara diri yang
diamati dengan diri yang mengamati
Sumber :
- Atkinson Rita L. dan Hilgard E.R. (1999). Pengantar Psikologi.
- Dr. Kartini Kartono, Hygiene Mental, CV. Mandar Maju, bandung, 2000
- Gaspersz, Vincent. 2007. Team Oriented Problem Solving. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama



