Perbedaan antara konseling dan psikoterapi
Konseling merupakan inti kegiatan
bimbingan secara keseluruhan yang berkenaan dengan pengentasan masalah dan
fasilitas pekembangan individu. Hubungan dalam konseling berbeda dengan
situasi, hubungan dalam konseling ditandai :
1.
Hubungan yang bersifat unik dan umum,
2.
Adanya keseimbangan obyektifitas dan subyektifitas,
3.
Adanya keseimbangan unsur kognitif dan konatif,
4.
Adanya keseimbangan antara kesamar-samaran dan
kejelasan,
5.
Adanya keseimbangan tanggung jawab.
Konseling danpsikoterapi memiliki
perbedaan dan persamaan serta keterkaitan satu dengan lainnya. Perbedaan antara
konseling dengan psikoterapi tidak dibuat secara jelas, akan tetapi banyak
hal-hal yang dilakukan oleh psikoterapis dan hal-hal yang merupakan
praktek, psikoterapis juga dilakukan oleh konselor. Konseling merupakan suatu
hubungan yang bersifat membantu, interaksi antara konselor dan konseli
menjadikan konseli terbantu dalam mencapai perubahan yang lebih baik, untuk
menumbuhkan kekuatan psikologis.
Perbedaan konseling dengan
psikoterapi menurut corey (1988) konseling yaitu peningkatan kesadaran dan
kemungkinan memilih, berjangka pendek, difokuskan pada masalah, membantu
individu untuk menyingjirkan hal-hal yang menghambat pertumbuhannya, dan
individu dibantu untuk menemukan sumber-sumber pribadi gar bisa hidup lebih
efektif.
Sedangkan psikoterapi yaitu:
difokuskan pada prosese-proses yang tidak sadar, berurusan dengan pengubahan
strusktur kepribadian, mengarah pada pemahaman diri yang intensif tentang
dinamika-dinamika yang bertanggung jawab atas terjadinya krisis-krisis
kehidupan ketimbang hanya berurusan dengan usaha mengatasi krisis kehidupan
tertentu. Dan ada juga perbedaan menurut Prawitasari (2002), konseling adalah
lebih sebagai pemecahan masalah yang disediakan konselor (dominan pada tataran
kognitif), sedangkan psikoterapi lebih sebagai koreksi pengalaman emosi.
|
Perbedaan
|
Konseling
|
Psikoterapi
|
|
Jenis Bantuan
|
Bantuan non material (bantuan
psikologis).
|
Bantuan psikis.
|
|
Pihak yang terlibat
|
1. Konselor.
2. Konseli.
|
1.
Para ahli kejiwaan.
2.
Individu yang mengalami gangguan kejiwaan (kesehatan mentalnya terganggu).
|
|
Tujuan
|
1.
Pemahaman diri.
2.
Penerimaan diri.
3.
Pengelolaan diri.
4.
Mengoptimalkan potensi dan kemampuan konseli.
5.
Pemecahan masalah.
6.
Aktualisasi diri.
7.
Mengubah KES T (Kehidupan Efektif Sehari-hari Terganggu) menjadi KES
(Kehidupan Efektif Sehari-hari).
|
Menyembuhkan atau menghilangkan
gangguan kejiwaan yang diderita oleh pasien.
|
|
Proses
|
1.
Wawancara konseling sebagai alat utama.
2.
Berkelanjutan.
3.
Normatif.
|
1.
Menggunakan obat penenang.
2.
Berkelanjutan hingga gangguan kejiwaan hilang.
|
|
Tahapan
|
1.
Membina hubungan baik (rapport).
2.
Explorasi masalah.
3.
Merumuskan tujuan.
4.
Merencanakan bantuan.
5.
Evaluasi, tindak lanjut.
|
Mengikuti tahapan dokter spesialis
gangguan kejiwaan.
|
|
Hasil (output)
|
1.
Individu yang mandiri.
2.
Mencapai KES (Kehidupan Efektif Sehari-hari).
3.
Terpecahkannya suatu masalah yang dihadapi individu.
|
Gangguan kejiwaan yang diderita
oleh pasien hilang (s
|
Dapus :
· http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBINGAN/195903311986031-SUHERMAN/KONSELING_%28KONSEP_DASAR%29_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf