Ringkasan Tugas 1
Konsep
Sehat.
Sehat sendiri bersifat dinamis yang
statusnya terus menerus berubah. Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari
sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Sehat yaitu suatu kondisi yang bebas dari berbagai
jenis penyakit baik secara fisik, mental, maupun social.
Sejarah Perkembangan Kesehatan
Mental
“Mental”
adalah sesuatu yang tidak dapat dengan jelas terlihat oleh kasat mata.
Sedangkan gangguan fisik dapat dengan mudah kita lihat dan dapat dengan mudah
terdeteksi. Individu yang terkena gangguan kesehatan mental sangat sulit untuk
diketahui, bahkan bagi orang terdekatnya sekalipun.
Perkembangan
kesehatan mental dari tahun ke tahun :
a)
Pada tahun 1600 sampai 1692 Gangguan
mental tidak dianggap sebagai sakit
b)
Pada tahun 1724 sampai 1960-an Gangguan
mental dianggap sebagai sakit
c)
Pada tahun 1961 sampai 1980 Gangguan
mental dianggap sebagai bukan sakit
Pendekatan Kesehatan
Mental
1.
Orientasi Klasik
Menurut pandangan orientasi klasik, individu
yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti
ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang
semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “perasaan tak sehat”, serta
mengganggu efisiensi dan efektifitas kegiatan sehari-hari.
2.
Orientasi Penyesuaian Diri
Dengan pandangan ini penentuan sehat atau sakit
mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Selain itu, berdasarkan
orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental dipahami sebagai kondisi
kepribadian individu secara utuh. Penentuan derajat kesehatan mental bukan
hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan dan
perkembangan individu dalam lingkungannya. Kesehatan mental seseorang sangat
erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat dimana individu hidup,
masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan pencapaian-pencapaian
sosialnya.
3.
Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi
bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan,
kebebasan bersikap dapat berkembang secara optimal sehingga mendatangkan
manfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan disekitarnya.
Sumber :
- Etjang, Indran, dr. (2000). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakrta. PT. Citra Aditya Bakti.
- Moeljono Notosoedirdjo, Kesehatan Mental; Konsep dan Penerapan, Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2002.
- Schultz, D.Psikologi Pertumbuhan : model – model kepribadian sehat. Yogyakarta: kanisius, 1991.
Teori Kepribadian Sehat
Kepribadian adalah kata yang begitu
umum dipakai di dunia Psikologi, kepribadian seseorang bisa dinilai dari
kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari berbagai orang dalam berbagai
keadaan. Sehat merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta untuk makhluk hidup
melakukan perbuatan mulia sehingga sehat dapat di pandang indah untuk selalu
disandang oleh individu yang sadar akan hal tersebut.
1.
Aliran Psikoanalisa
Menurut teori psikoanalitik
Sigmund Freud, kepribadian
terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai Id, Ego,
dan Superego, yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang
kompleks. Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah
sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi
yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis
dan pengalaman-pengalaman dini. Frued juga mengatakan bahwa masyarakat memiliki fungsi untuk meregulasi insting mati dan
membantu orang-orang menyublimasikan-nya, sehingga energi agresif berubah
menjadi perilaku yang dapat diterima atau bermanfaat. Misalnya, Freud yakin
bahwa di balik kreasi artistik atau inovatif adalah sublimasi (perubahan wujud)
dari energi agresif (atau seksual).
2.
Aliran Behavioristik
Behaviorisme
merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh, serta memiliki akar
sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi terhadap
introspeksionisme ( yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan -
laporan subjektif ) dan juga psikoanalisis ( yang berbicara tentang alam bawah
sadar yang tidak tampak ). Behaviorisme tidak setuju dengan
penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme. Behaviorisme
memandang pula bahwa ketika dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa
bakat apa - apa. Manusia akan berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya
dari lingkungan sekitarnya. Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia
buruk, lingkungan yang baik akan menghasilkan manusia baik.
3.
Aliran Humanistik
Aliran humanistik merupakan konstribusi dari psikolog-psikolog
terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl Rogers. Menurut aliran
humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut untuk mengembangkan
potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap individu
dipengaruhi dan dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka hubungkan
kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Sumber :
·
Alwisol.
(2005) Psikologi Kepribadian. Malang
: Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
·
Schultz,
D. (1991). Psikologi
Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya
: Kanisius
Penyesuain Diri dan Pertumbuhan
Penyesuaian
diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal
adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari
tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation),
penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri
sebagai usaha penguasaan (mastery) .Pada mulanya penyesuaian diri diartikan
sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih
mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Menurut Kartono (2000), penyesuaian
diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni pada diri sendiri dan pada
lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan, depresi, dan emosi negatif lain
sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan kurang efisien bisa dikikis.
Pembentukan
Penyesuaian Diri :
·
Lingkungan Keluarga
·
Lingkungan Teman Sebaya
Pertumbuhan Personal
Kepribadian
suatu individu tidak sertamerta langsung terbentuk, akan tetapi melalui
pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui proses yang panjang. Setiap
individu pasti akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Dan hal
itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor yang
mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan karena
keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak meluangkan
waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma
yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan
individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat pun
terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi
pertumbuhan individu.
Terjadinya perubahan pada seseorang
secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dari pengalamaan atau empire luar
melalui panca indra yang menimbulkan pengalaman dalam mengenai keadaan batin
sendiri yang menimblkan reflexions.
Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
a. Faktor
Biologis
b. Faktor
Geografis
c. Faktor
Kebudayaan Khusus
Sumber :
- Sunarto & Hartono, B. Agung. (1995). Perkembangan peserta didik. Jakarta: Rineka Cipta Wahjosumidjo.
- J.P.Chaplin (1972). ). Psikologi Perkembangan. Jakarta; Penerbit, PT Gramedia
Ringkasan Tugas 2
Kepribadian menurut
para ahli.
Allport – Ciri-ciri Kepribadian yang
Matang
Menurut Allport, faktor utama
tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan
selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi
fungsional.
Kualitas Kepribadian
yang matang menurut Allport sebagai berikut :
a. Perluasan Perasaan Diri
Ketika
diri berkembang, maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda.
Mula-mula diri berpusat hanya pada individu, kemudian ketika lingkaran
pengalaman bertumbuh maka diri menambah luas meliputi nilai-nilai dan cinta
yang abstrak. Allport menanamkan hal ini ”partisipasi otentik yang dilakukan
oleh orang dalam beberapa suasana yang penting dari usaha manusia” orang harus
meluaskan diri ke dalam aktivitas.
b. Hubungan Diri yang Hangat dengan
Orang Lain
Allport
membedakan 2 macam kehangatan. Dalam hubungan dengan orang-orang lain.
Kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu. Orang yang
sehat secara psikologis mampu memperhatikan keintiman (cinta) terhadap orang
tua, anak, partner, teman akrab, apa yang dihasilkan oleh kapasitas untuk
keintiman ini adalah suatu perasaan perluasan diri yang berkembang baik.
c. Keamanan Emosional
Sifat
dari kepribadian yang sehat ini meliputi beberapa kualitas-kualitas utama
adalah penerimaan diri kepribadian-kepribadian yang sehat mampu menerima semua
segi dari ada mereka, termasuk kelemahan-kelemahan dan kekurangan-kekurangan
tersebut, misalnya, orang-orang yang matang dapat menerima dorongan seks mereka
tanpa menjadi terlalu sopan atau tertekan seperti yang dapat terjadi dengan
orang-orang yang neurotis.
d. Persepsi Realistis
Orang-orang
yang sehat memandang dunia mereka secara objektif sebaliknya, orang-orang yang
neuritis kerap kali harus merubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan
keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan mereka
sendiri.
e. Keterampilan-ketrampilan dan
Tugas-tugas
Allport
menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya menenggelamkan diri sendiri
didalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan
keterampilan-ketrampilan dan bakat-bakat tertentu suatu tingkat kemampuan
tetapi tidaklah cukup hanya memiliki keterampilan-keterampilan relevan, kita
harus menggunakan keterampilan-keterampilan itu secara antusias.
f. Pemahaman Diri
Usaha
untuk mengetahui diri secara objektif mulai pada awal kehidupan dan tidak
pernah berhenti, tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri
(self objectification) tertentu yang berguna dalam setiap usia. Kepribadian
yang sehat mencapai suatu tingkat pemahaman diri yang lebih tinggi dari pada
orang-orang yang neuritis.
g.
Filsafat
Hidup yang Mempersatukan
Allport
menyebut dorongan yang mempersatukan ini ”arah” (directness), dan lebih
kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat dari pada orang-orang yang
neuritis. Arah itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu
tujuan (atau rangkaian tujuan) serta memberikan orang itu suatu alasan untuk
hidup.
Rogers – Perkembangan Kepribadian
Carl
Rogers mendeskripsikan the self sebagai sebuah konstruk yang
menunjukan bagaimana setiap individu melihat dirinya sendiri. Konsep pokok dari
teori kepribadian Rogers adalah self, sehingga dapat dikatakan self merupakan
satu-satunya sruktur kepribadian yang sebenarnya. Rogers tidak membahas teori
pertumbuhan dan perkembangan dan tidak melakukan riset jangka panjang yang
mempelajari hubungan anak dengan orangtuanya. Namun ia yakin adanya kekuatan
tumbuh pada semua orang yang secara alami mendorong proses organism menjadi
semakin kompleks, ekspansi, otonom, sosial dan secara keseluruhan semakin
aktualisasi diri. Struktur self menjadi bagian terpisah dari medan fenomena dan
semakin kompleks. Self berkembang secara utuh keseluruhan, menyentuh semua
bagian-bagiannya. Berkembangnya self diikuti oleh kebutuhan penerimaan positif
dan penyaringan tingkah laku yang disadari agar tetap konruen dengan struktur
self. Dalam individu yang sehat dan yang mengaktulisasikan diri muncullah suatu
pola yang berkaitan. Situasi itu berbeda untuk seorang individu yang mendapat
gangguan emosional.
Maslow
– Hierarki Kebutuhan Manusia (Aktualisasi Diri)
Menurut konsep Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow, manusia
didorong oleh kebutuhan-kebutuhan universal dan dibawa sejak lahir. Kebutuhan
ini tersusun dalam tingkatan-tingkatan dari yang terendah sampai tertinggi.
Kebutuhan paling rendah dan paling kuat harus dipuaskan terlebih dahulu sebelum
muncul kebutuhan tingkat selanjutnya. Kebutuhan paling tertinggi dalam hirarki
kebutuhan individu Abraham Maslow adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri
sangat penting dan merupakan harga mati apabila ingin mencapai kesuksesan.
Aktualisasi diri adalah tahap pencapaian oleh seorang manusia terhadap apa yang
mulai disadarinya ada dalam dirinya. Semua manusia akan mengalami fase itu,
hanya saja sebagian dari manusia terjebak pada nilai-nilai atau ukuranukuran
pencapaian dari tiap tahap yang dikemukakan Maslow. Maslow menemukan bahwa
tanpa memandang suku asal-usul seseorang, setiap manusia mengalami tahap-tahap peningkatan
kebutuhan atau pencapaian dalam kehidupannya.
Kebutuhan tersebut meliputi:
1. Kebutuhan
fisiologis (physiological), meliputi kebutuhan akan pangan, pakaia, dan tempat
tinggal maupun kebutuhan biologis
2. Kebutuhan
keamanan dan keselamatan (safety), meliputi kebutuhan akan keamanan kerja,
kemerdekaan dari rasa takut ataupun tekanan, keamanan dari kejadian atau
lingkungan yang mengancam
3. Kebutuhan
rasa memiliki, sosial dan kasih sayang (social), meliputi kebutuhan akan
persahabatan, berkeluarga, berkelompok, interaksi dan kasih sayang
4. Kebutuhan
akan penghargaan (esteem), meliputi kebutuhan akan harga diri, status,
prestise, respek, dan penghargaan dari pihak lain
5. Kebutuhan
aktualisasi diri (self actualization), meliputi kebutuhan akan memenuhi keberadaan
diri (self fulfillment) melalui memaksimumkan penggunaaan kemampuan dan potensi
diri.
Erich
Fromm – Ciri-ciri Kepribadian Sehat
Kepribadian
yang sehat menurut Erich Fromm adalah pribadi yang produktif yaitu pribadi yang
dapat menggunakan secara penuh potensi dirinya. Kepribadian yang sehat menurut
Fromm ditandai beberapa hal antara lain pola hubungan yang sehat (konstruktif),
bukan atas dasar ketergantungan ataupun kekuasaan dalam hubungan dengan orang
lain, kelompok, dan Tuhan. Transendensi (kebutuhan untuk melebihi peran-peran
pasif, melampaui perasaan tercipta menjadi pencipta yang aktif-kreatif). Sama
seperti Fromm, dan tokoh-tokoh lain yang menggambarkan kepribadian yang sehat
(Carl Rogers, Maslow, Fritz Pearls), Frankl juga menegaskan faktor kebebasan/independency/otonomi
(kebalikan dari ketergantungan). Kegagalan dalam menegakkan tiga faktor
tersebut akan mengakibatkan frustrasi eksistensial yang ditandai oleh perasaan
hampa/absurd (ragu akan makna hidupnya sendiri). Ada 4 segi tambahan dari kepribadian
sehat yaitu cinta, pikiran, kebahagiaan, dan suara hati yang produktif.
Sumber :
- Hall,Calvin. Lindsay,Gardner. Editor: Sugiyono. 1993. Psikologi Kepribadian 3 Teori-Teori Kepribadian Behavioristik. Kanisius : Yogyakarta, Schultz, Duane.Psikologi Pertumbuhan : model – model kepribadian sehat. Yogyakarta: kanisius, 1991.
- Schultz, Duane.Psikologi Pertumbuhan : model – model kepribadian sehat. Yogyakarta: kanisius, 1991.Corey, Gerald. Konseling dan Psikoterapi. Aditama:Bandung, 2009)
- Frank G. Goble, Mazhab Ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Penerjemah Drs. A. Supratiknya. Yogyakarta: Kanisius, 1991
Pengertian
Stress
Arti
Penting Stress
Menurut Hans Selye seorang fisiologi
dan pakar stress yang dimaksud dengan stress adalah suatu respon tubuh
yang tidak spesifik terhadap aksi atau tuntutan atasnya. Dari sudut pandang
psikologis stress didefinisikan sebagai suatu keadaan internal yang disebabkan
oleh kebutuhan psikologis tubuh atau disebabkan oleh situasi lingkungan atau
sosial yang potensial berbahaya, memberikan tantangan, menimbukan
perubaha-perubahan atau memerlukan mekanisme pertahanan seseorang.
Efek-efek
Stress (Hans Selye)
Sindrom adaptasi umum (general
adaption syndrom/ GAS) yang dikemukakan Seyle menggambarkan efek umum pada
tubuh remaja akibat stres.
GAS terdiri dari
tiga tahap:
1.
Peningkatan
2.
Pertahanan
3.
Kelelahan
Tidak semua stres itu buruk - Seyle menyebut stres
yang baik sebagai "eustress". Kritik yang ditujukan Seyle
mengatakan bahwa kita juga perlu mengetahui faktor-faktor seperti strategi
penanganan stres yang dilakukan remaja. Individu mengenali keberadaan stres dan
mencoba menghilangkannya.
Tipe-tipe
Stress
Adapula yang membagi stressor menjadi:
a. Stressor fisis
: seperti panas, dingin, suara bising dan sebagainya
b. Stressor sosial
: seperti keadaan sosial, ekonomi, politik, pekerjaan, karir,
masalah keluarga,
hubungan intepersonal, dan
lain-lain.
c. Stessor psikis misalnya
frustasi, rendah diri,perasaan berdosa, masa depan yang tidak jelas dan
sebagainya.
a) Tekanan
Tekanan
timbul dalam kehidupan sehari-hari dan dapat berasal dalam diri individu.
Tekanan juga dapat berasal dari luar diri individu. Tekanan sering ditemui
dalam kehidupan sehari-hari dan memiliki bentuk yang berbeda-beda
pada setiap individu. Tekanan dapat berasal dari sumber internal atau eksternal
atau kombinasi dari keduanya.Tekanan internal misalnya adalah sistem nilai,
self esteem, konsep diri dan komitmen personal. Tekanan eksternal misalnya
berupa tekanan waktu atau peranyang harus dijalani seseorang, atau juga dpat
berupa kompetisi dalam kehidupan sehari-hari.
b)
Frustrasi
Muncul
karena adanya kegagalan saat ingin mencapai suatu tujuan.Frustasi adaa yang
bersifat intrinsik (cacat badan dan kegagalan usaha) dan ekstrinsik
(kecelakaan,bencana alam,kematian,pengangguran,perselingkuhan,dll)
c)
Konflik
Timbulkan
karena tidak bisa memilih antara dua atau lebih macam keinginan, kebutuhan,
atau tujuan. Bentuknya :
·
approach-approach
conflict
·
approach-avoidance
conflict
·
avoidance-avoidance
conflict
d)
Kecemasan
Kecemasan
merupakan suatu kondisi individu merasakan kekhawatiran, kegelisahan,
ketegangan dan rasa tidak nyaman yang tidak terkendali mengenai kemungkinan
akan terjadinya sesuatu yang buruk.
Symptom
Reducing Responses Stress dan Pendekatan Problem Solving
Richard Lazarus (1966, 1990, 1993)
percaya bahwa penanganan stres atau coping terdiri dari dua
bentuk. Coping yang berfokus pada masalah (problem-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk strategi
kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang
menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya. Coping yang berfokus
pada emosi (emotion-focused coping) adalah istilah Lazarus untuk
strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi
stres dengan cara emosional terutama dengan menggunakanpenilaian
defensif. Pada strategi penanganan stres berfokus pada emosi, seorang
remaja bisa menghindari sesuatu, merasionalisasi apa yang telah terjadi
padanya, manyangkal bahwa hal itu tengah terjadi, atau menertawakannya. Walaupun
demikian, seiring dengan serjalannya waktu remaja akan lebih menggunakan
strategicoping yang berfokus pada masalah daripada
strategi coping yang berfokus pada emosi. Salah satu cara dalam
menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah
mengetahui bagian-bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk
menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit
sebagai feedback.
Melakukan sugesti untuk diri
sendiri, juga dapat lebih efektif karena kita tahu bagaimana keadaan diri kita
sendiri. Berikan sugesti-sugesti yang positif, semoga cara ini akan
berhasil ditambah dengan pendekatan secara spiritual (mengarah kepada Tuhan).
Sumber
:
- dr. J.B Suharjo B. Cahyono, SpPD. 2008. Gaya Hidup & Penyakit Modern.Yogyakarta: Kanisius
- Gaspersz, Vincent. 2007. Team Oriented Problem Solving. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Coping
Stress
Pengertian
Coping dan Jenis-jenis Coping
Lazarus mendefinisikan coping
sebagai suatu cara suatu individu untuk mengatasi situasi atau masalah yang
dialami baik sebagai ancaman atau suatu tantangan yang menyakitkan. Dengan
perkataan lain strategi coping merupakan suatu proses dimana individu berusaha
untuk menanggani dan menguasai situasi stres yang menekan akibat dari masalah
yang sedang dihadapinya dengan cara melakukan perubahan kognitif maupun
perilaku guna memperoleh rasa aman dalam dirinya. Umumnya coping strategi
dapat didefinisikan sebagai kemampuan seseorang untuk mengatasi berbagai permasalahan
yang melingkupi kehidupannya. dan coping dipandang sebagai suatu usaha
untuk menguasai situasi tertekan, tanpa memperhatikan akibat dari tekanan
tersebut.
Lazarus & Folkman
(1986) mengidentifikasi berbagai jenis strategi coping, baik secara problem-focused
maupun emotion-focused, antara lain :
1.
Planful problem solving yaitu usaha
untuk mengubah situasi, dan menggunakan usaha untuk memecahkan masalah.
2.
Confrontive coping yaitu
menggunakan usaha agresif untuk mengubah situasi, mencari penyebabnya dan
mengalami resiko.
3.
Seeking social support yaitu
menggunakan usaha untuk mencari sumber dukungan informasi, dukungan sosial dan
dukungan emosional.
4.
Accepting responsibility yaitu
mengakui adanya peran diri sendiri dalam masalah.
5.
Distancing yaitu menggunakan usaha
untuk melepaskan dirinya, perhatian lebih kepada hal yang dapat meciptakan
suatu pandang positif.
6.
Escape-avoidance yaitu melakukan
tingkah laku untuk lepas atau menghindari.
7.
Self-control yaitu menggunakan
usaha untuk mengatur tindakan dan perasaan diri sendiri. Positive reappraisal
yaitu menggunakan usaha untuk menciptakan hal-hal positif dengan memusatkan
pada diri sendiri dan juga menyangkut religiusitas.
Jenis-jenis Coping yang Konstruktif dan
Positif (sehat)
Berdasarkan jenis koping menurut Lazarus dan Folkman, saya
menyimpulkan bahwa :
Koping konstruktif meliputi :
·
Escape
Konstruktif karena
korban stres berusaha menghilangkan stresnya dengan beralih pada hal negatif
seperti minuman keras, rokok, narkoba, dll.
·
Acceptance.
Suatu kondisi dimana
si korban menerima saja keadaan stresnya itu dan tidak melakukan upaya sama
sekali untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi gejala stresnya tersebut.
Bila dibiarkan akan mengganggu kesehatan fisiknya secara tidak langsung.
·
Denial (avoidance)
Dimana si korban
mengikari masalah yang ada pada dirinya. Hal ini pun tidak baik karena dia
hanya memendam masalah yang dimilikinya sehingga sewaktu – waktu stresnya
tersebut bisa muncul lagi. Strategi ini bersifat sementara tidak permanen.
·
Avoidant coping
Menurut saya strategi
ini juga negatif, karena si korban berusaha menarik dirinya dari kondisi yang
membuatnya stres. Seharusnya si korban membuat suatu penyelesaian masalah bukan
menarik dirinya, bila pada suatu saat dia harus berhadapan lagi dengan kondisi
yang ia hindari maka stres akan menerpa dirinya lagi.
Jenis-jenis koping yang
positif (sehat), Harmer dan Ruyon (1984)
1. Penalaran
(reasoning)
Yaitu penggunaan kemampuan kognitif
untuk mengeksplorasi bebagai macam alternatif pemecahan masalah dan kemudian
memilih salah satu alternate yang dianggap paling menguntungkan.
2. Objektifitas
Yaitu kemampuan untuk membedakan antara
komponen-komponen emosional dan logis dalam pemikiran, penalaran maupun tingkah
laku. Kemampuan ini juga meliputi kemampuan untuk membedakan antara
pikiran-pikiran yang berhubungan dengan persoalan dengan yang tidak berkaitan.
3. Konsentrasi
Yaitu kemampuan untuk memusatkan
perhatian secara penuh pada persoalan yang sedang dihadapi. Konsentrasi
memungkinkan individu untuk terhindar dari pikiran-pikiran yang mengganggu
ketika berusaha untuk memecahkan persoalan yang sedang dihadapi. Pada
kenyataannya, justru banyak individu yang tidak mampu berkonsetrasi ketika
menghadappi tekanan.
4. Penegasan
diri (self assertion)
Individu berhadapan dengan konflik
emosional yang menjadi pemicu stress dengan cara mengekpresikan
perasaan-perasaan dan pikiran-pikirannya secara langsung tetapi dengan cara
yang tidak memaksa atau memanipulasi orang lain. Pengamatan diri (self
observation)
Pengamatan diri sejajar dengan
introspreksi, yaitu individu melakukan pengujian secara objektif proses-proses
kesadaran sendiri atau mengadakan pengamatan terhadap tingkah laku, motif,
cirri, sifat sendiri, dan seterusnya untuk mendapatkan pemahaman mengenai diri sendiri
yang semakin mendalam.
Sumber :
·
Atkinson Rita L. dan Hilgard E.R.
(1999). Pengantar Psikologi.
·
Kesehatan Mental 1 Oleh
Drs.Yustinus Semiun, OFM
·
Dr. Kartini Kartono, Hygiene
Mental, CV. Mandar Maju, bandung, 2000
Ringkasan Tugas 3
Pengertian
dan Konsep Penyesuaian Diri
Menurut Schneiders (dalam
Ali dan Ansrori, 2006) definisi penyesuaian diri dapat ditinjau dari 3 sudut
pandang, yaitu penyesuaian diri sebagai bentuk adaptasi , penyesuaian diri
sebagai bentuk konformitas, dan penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan. Pada
mulanya penyesuaian diri sama dengan adaptasi. Penyesuaian diri
(self-adjustment) adalah suatu proses yang melibatkan respon-respon mental dan
perbuatan individu dalam upaya memenuhi kebutuhan-kebutuhan, dan mengatasi
ketegangan, frustasi, dan konflik dengan memperhatikan norma atau tuntutan
lingkungan dimana dia hidup (Alexander Schneiders. 1964 : 51). Schneiders
juga memandang bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari empat sudut
pandang yaitu (1) Penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation), (2)
Penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), (3) Penyesuaian diri
sebagai usaha penguasaan (mastery) dan, (4) Perbedaan individual pada
perilaku dan respon yang muncul daro masing-masing individu dalam menanggapi
masalah (individual variation).
Ada beberapa ciri penyesuaian diri yang efektif,
seperti :
1. Memiliki
Persepsi yang Akurat terhadap Realita
2. Memiliki
Kemampuan untuk Beradaptasi dengan Tekanan atau Stres dan juga Kecemasan
3. Mempunyai
Gambaran Diri yang Positif tentang dirinya
4. Memiliki
Kemampuan untuk Mengekspresikan Perasaannya
5. Mempunyai
kemapuan Relasi Interpersonal yang baik
Individu yang memiliki serta memenuhi ciri-ciri
tersebut dapat digolongkan sebagai individu yang memiliki kesehatan mental yang
positif.
Konsep
Penyesuaian diri
Penyesuaian yang
sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang
antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak
terpenuhi, dan semua fungsi-fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun,
penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus
menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai
pribadi sehat. Penyesuaian diri adalah suatu proses. Kepribadian yang sehat
ialah memiliki kemampuan untuk mengadakan penyesuaian diri secara harmonis,
baik terhadap diri sendiri maupun terhadap lingkungannya.
Pengertian
Pertumbuhan Personal
Pertumbuhan kepribadian ditingkatkan
oleh banyaknya minat terhadap pekerjaan dan kegemaran. Sulit menyesuaikan
diri dengan baik terhadap tuntutan-tuntutan pekerjaan yang tidak menarik dan
membosankan, dan segera pekerjaan itu menjadi hal yang tidak menyenangkan atau
menjijikkan. Tetapi, kita memiliki cara tertentu untuk mengubah dan mengganti
pekerjaan yang merangsang minat kita sehingga kita dapat memperoleh kepuasan
terus-menerus dalam pekerjaan.
Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
1.
Faktor Biologis
Semua
manusia normal dan sehat pasti memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala,
tangan , kaki dan lainya. Hal ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan
dalam kepribadian dan perilaku. Namun ada warisan biologis yang bersifat
khusus. Artinya, setiap individu tidak semua ada yang memiliki karakteristik
fisik yang sama.
2.
Faktor Geografis
Setiap
lingkungan fisik yang baik akan membawa kebaikan pula pada penghuninya.
Sehingga menyebabkan hubungan antar individu bisa berjalan dengan baik dan
mencimbulkan kepribadian setiap individu yang baik juga. Namun jika lingkungan
fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan baik dengan individu yang lain,
maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak baik pula.
3.
Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan
kebudayaan dapat mempengaruhi kepribadian anggotanya. Namun, tidak berarti
semua individu yang ada didalam masyarakat yang memiliki kebudayaan yang sama
juga memiliki kepribadian yang sama juga.
Dari semua
faktor-faktor di atas dan pengaruh dari lingkungan sekitar seperti keluarga
dan masyarakat maka akan memberikan pertumbuhan bagi suatu individu. Seiring
berjalannya waktu, maka terbentuklah individu yang sesuai dan dapat
menyesuaikan dengan lingkungan sekitar.
Sumber :
·
Sunaryo. (2002). Psikologi untuk Keperawatan. Jakarta
: Penerbit Buku kedokteran EGC
·
Chaplin,J.P. (a.b. Kartini Kartono).
(2001). Kamus Lengkap
Psikologi. Jakarta: Rajawali Pers
Hubungan
Interpersonal
Hubungan
interpersonal adalah hubungan yang terdiri atas dua orang atau lebih yang
memiliki ketergantungan satu sama lain dan menggunakan pola interaksi yang
konsisten.
a)
Model-model Hubungan Interpersonal
Model-model
Hubungan Interpersonal:
1. Model
Pertukaran Sosial (Social Exchange Model)
Thibault dan Kelley, dua orang pemuka
uatama dari model ini, menyimpulkan model pertukaran sosial sebagai berikut,
“asumsim dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap
individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya
selama hubungan tersebut cukup memuaskan ditinjau dari segi ganjaran dan biaya.
2. Model
Peranan (Role Model)
Hubungan interpersonal berkembang baik
bila setiap individu bertindak sesuai dengan ekspedisi peranan dan tuntutan
peranan, memiliki keterampilan peranan, dan terhindari dari konflik peranan dan
kerancuan peranan. Ekspektasi peranan mengacu pada kewajiban, tugas, dan
hal yang berkaitan dengan posisi tertentu dalam kelompok.
3. Model
Permainan (The “games people play” Model)
Untuk menjelaskan model ini digunakan
analisis transaksional dimana manusia diklasifikasikan dalam tiga karakter,
yaitu kepribadian anak-anak, dewasa, dan orang tua. Model hubungan
transaksional keempat adalah Model Interaksional.
4. Model
Interaksional (Interactional Model)
Dalam model interaksional ini, suatu
hubungan interpersonal didefinisikan sebagai suatu sistem. Saya mengambil
analogi sistem pencernaan manusia. Dalam sistem tersebut, masing masing organ
seperti mulut, kerongkongan, lambung, dan usus harus dapat melaksanakan kewajibannya
dengan baik. Bila salah satu organ dalam sistem mendapatkan gangguan, maka akan
mengganggu kinerja organ lainnya. Model Interaksional yang memandang hubungan
sebagai sebuah sistem menggambarkan lebih jauh dari sekedar proses stimulus
hingga keluarnya respon. Bila model linier menggambarkan bahwa individu
bersikap pasif, maka dalam model interaksional ini digambarkan bahwa individu
bersifat aktif.
b)
Tahapan-tahapan Menjalin Hubungan
Interpersonal
1. Pembentukan
Tahap ini sering disebut juga dengan tahap
perkenalan. Fase pertama, “fase kontak yang permulaan”, ditandai oleh usaha
kedua belah pihak untuk menangkap informasi dari reaksi kawannya. Masing-masing
pihak berusaha menggali secepatnya identitas, sikap dan nilai pihak yang lain.
bila mereka merasa ada kesamaan, mulailah dilakukan proses mengungkapkan diri.
Pada tahap ini informasi yang dicari meliputi data demografis, usia, pekerjaan,
tempat tinggal, keadaan keluarga dan sebagainya.
2. Peneguhan
Hubungan
Hubungan interpersonal tidaklah bersifat
statis, tetapi selalu berubah. Untuk memelihara dan memperteguh hubungan
interpersonal, diperlukan tindakan-tindakan tertentu untuk mengembalikan
keseimbangan. Ada empat faktor penting dalam memelihara keseimbangan ini,
yaitu:
· Keakraban
· Kontrol
· Respon
yang Tepat
· Nada
Emosional yang Tepat
3. Pemutusan
Hubungan
Menurut R.D. Nye dalam bukunya yang
berjudul Conflict Among Humans, setidaknya ada lima sumber konflik
yang dapat menyebabkan pemutusan hubungan, yaitu:
·
Kompetisi
·
Dominasi
·
Kegagalan
·
Provokasi
·
Perbedaan Nilai
c) Intimasi
dan Hubungan Pribadi
Untuk
menjalin hubungan pribadi diperlukan adanya intimacy Cinta interpersonal
membutuhkan tiga hal: Intimacy, Passion, dan Commitment.
Perasaan dekat dan nyaman muncul dari kualitas kebersamaan yang bagus.
Keberasamaan yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan ini adalah
sebuah wujud awal dari cinta yang sering disebut sebagai persahabatan atau
pertemanan (Liking/Friendship). Proses pendekatan itu proses dimana kebersamaan
yang menciptakan Intimacy dan kenyamanan yang merupakan wujud awal
cinta. Jika Intimacy, Passion, dan Commitment terpenuhi, maka
sebuah hubungan akan menjadi sempurna karena dliliputi oleh cinta yang
menyeluruh (Consummate Love). Namun, keadaan yang penuh cinta yang menyeluruh
ini bisa berlangsung selamanya dan bisa juga tidak. Ketika Intimacy yang
hilang, maka yang terjadi adalah cinta absurd (Fatuous Love). Hilangnya Intimacy
terjadi, juga karena respon yang tidak tepat terhadap rasa yang menyertai
sebuah hubungan, seperti sedih, gembira, puas, kecewa, rindu bahkan bosan.
d)
Intimasi dan Pertumbuhan
Keintiman
tidak akan bertumbuh jika tidak ada cinta . Keintiman berarti proses menyatakan
siapa kita sesungguhnya kepada orang lain. Keintiman adalah kebebasan menjadi
diri sendiri. Keintiman berarti proses membuka topeng kita kepada pasangan
kita. Bagaikan menguliti lapisan demi lapisan bawang, kita pun menunjukkan
lapisan demi lapisan kehidupan kita secara utuh kepada pasangan kita. Keinginan
setiap pasangan adalah menjadi intim. Kita ingin diterima, dihargai, dihormati,
dianggap berharga oleh pasangan kita. Kita menginginkan hubungan kita menjadi
tempat ternyaman bagi kita ketika kita berbeban. Tempat dimana belas kasihan
dan dukungan ada didalamnya. Namun, respon alami kita adalah penolakan untuk
bisa terbuka terhadap pasangan kita.
Sumber
:
·
Hall, S Calvin., Lindzey , Gardner.,
(2009). teori - teori psikodinamika,
yogyakarta:kanisius
·
Widyarini, M. M. Nilam. 2009. Seri Psikologi Populer: Membangun
Hubungan Antar Manusia. Jakarta: Elex Media Komputindo
·
Oliver, Sandra, 2001, Strategi Public Relations. Jakarta
: Erlangga
·
Roberts, Albert R. & Greene Gilbert
J. 2008. Buku 1 Pintar Pekerja
Sosial. Jakarta : PT BPK Gunung Mulia.
Cinta dan Perkawinan
Cinta adalah
sebuah emosi dari kasih
sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam
konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan,
perasaan belas kasih dan kasih sayang. Sedangkan Perkawinan adalah
ikatan sosial atau ikatan perjanjian hukum antar
pribadi yang membentuk hubungan kekerabatan dan
yang merupakan suatu pranatadalam budaya setempat
yang meresmikan hubungan antar pribadi - yang biasanya intim dan seksual.
a) Bagaimana
Memilih Pasangan
Memilih pasangan hidup bukanlah perkara
mudah. Pasalnya, banyak orang yang merasa tidak sreg ketika mereka ditawari
untuk memilih suami atau memilih istri, tak seperti memilih pacar yang bisa
dengan mudah dilakukan. Adapun bila kita dihadapkan suatu pilihan lebih dari
satu, tentu sewajarnya seorang akan memilih yang terbaik baginya, meskipun
pilihan terbaik baginya tidak selalu identik dengan pilihan yang terbaik bagi
umum, karena seseorang tentu memiliki pertimbangan yang sangat khusus yang
tidak dimiliki oleh orang lain. Maka, ketika sedang memilih calon pasangan ,
bukalah mata lebar-lebar. Lihatlah dia secara utuh. Kumpulkan informasi
sebanyak-banyaknya tentang dia, terutama kekurangannya. Karena saya yakin,
kelebihan dari pasangan akan dengan mudah kita terima tetapi kekurangan?
Tanyakanlah pada diri sendiri, mumpung belum akad nikah, apakah siap menerima
kekurangan-kekurangan tersebut? Terakhir, lihatlah dia tidak hanya di masa
sekarang tetapi juga potensinya di masa depan. Tahukah kalian bedanya anak-anak
dan dewasa? Anak-anak hanya berfikir apa yang ada sekarang sementara orang
dewasa berfikir lebih jauh ke depan. Pernikahan adalah urusannya orang dewasa
maka berfikirlah dewasa.
b) Seluk
beluk hubungan dalam Perkawinan
Pada umumnya salah satu tanda kegagalan
suami-istri dalam mencapai kebahagiaan perkawinan adalah perceraian. Perceraian
adalah akumulasi dari kekecewaan yang berkepanjangan yang disimpan dalam alam
bawah sadar individu. Adanya batas toleransi pada akhirnya menjadikan
kekecewaan tersebut muncul kepermukaan, sehingga keinginan untuk bercerai
begitu mudah.
Masalah
diseputar perkawinan atau kehidupan berkeluarga antara lain:
·
Kesulitan ekonomi keluarga yang kurang
tercukupi.
·
Perbedaan watak.
·
Temperamen dan perbedaan kepribadian
yang sangat tajam antara suami dan istri.
·
Ketidakpuasan dalam hubungan seks.
·
Kejenuhan rutinitas.
·
Hubungan antara keluarga besar
yang kurang baik.
·
Adanya istilah WIL (wanita idaman lain)
atau PIL (pria idaman lain).
·
Masalah harta warisan.
·
Menurunnya perhatian kedua belah pihak.
·
Domonasi dan intervensi orang tua atau
mertua.
·
Kesalahpahaman antara kedua belah pihak.
Suami
dan istri sering beranggapan bahwa masalah yang timbul akan
selesai dengan sendirinya, asalkan bersabar dan menyediakan waktu yang panjang. Namun kenyataannya masalah yang didiamkan bukan membaik, malah memburuk seiring berjalannya waktu yang lama. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata, kareana masalah menjadi seperti benang kusut dan tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan makin menyesuaikan diri dalam kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain antara suami dan istri sudah menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya tapi tidak dilakukan sehingga dapat menimbulkan perceraian.
selesai dengan sendirinya, asalkan bersabar dan menyediakan waktu yang panjang. Namun kenyataannya masalah yang didiamkan bukan membaik, malah memburuk seiring berjalannya waktu yang lama. Kejengkelan makin menumpuk dan penyelesaian makin jauh di mata, kareana masalah menjadi seperti benang kusut dan tidak tahu lagi harus memulainya dari mana. Pada akhirnya ketidakpedulian menggantikan cinta dan makin menyesuaikan diri dalam kehidupan yang tidak sehat ini. Dengan kata lain antara suami dan istri sudah menemukan cara yang efektif untuk menyelesaikannya tapi tidak dilakukan sehingga dapat menimbulkan perceraian.
c) Penyesuaian
dan Pertumbuhan dalam Perkawinan
Perkawinan tidak berarti mengikat
pasangan sepenuhnya. Pada dasarnya, diperlukan penyesuaian diri dalam sebuah
perkawinan, yang mencakup perubahan diri sendiri dan perubahan lingkungan. Bila
hanya mengharap pihak pasangan yang berubah, berarti kita belum melakukan
penyesuaian. Banyak yang bilang pertengkaran adalah bumbu dalam sebuah
hubungan. Bahkan bisa menguatkan ikatan cinta. Hanya, tak semua pasangan mampu
mengelola dengan baik sehingga kemarahan akan terakumulasi dan berpotensi
merusak hubungan.
d) Perceraian
dan Pernikahan Kembali
Menikah Kembali setelah perceraian
mungkin menjadi keputusan yang membingungkan untuk diambil. Karena orang akan
mencoba untuk menghindari semua kesalahan yang terjadi dalam perkawinan
sebelumnya dan mereka tidak yakin mereka bisa memperbaiki masalah yang dialami.
Mereka biasanya kurang percaya dalam diri mereka untuk memimpin pernikahan yang
berhasil karena kegagalan lama menghantui mereka dan membuat mereka ragu-ragu
untuk mengambil keputusan. Esensi dalam pernikahan adalah menyatukan dua
manusia yang berbeda latar belakang. Untuk itu kesamaan pandangan dalam
kehidupan lebih penting untuk diusahakan bersama. Jika ingin sukses dalam
pernikahan baru, perlu menyadari tentang beberapa hal tertentu, jangan biarkan
kegagalan masa lalu mengecilkan hati. Menikah Kembali setelah perceraian bisa
menjadi pengalaman menarik. tinggalkan masa lalu dan berharap untuk masa depan
yang lebih baik.
e) Single
Life
Ada banyak alasan untuk tetap melajang.
Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita
waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi,
perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih
untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser,
apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam
memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang
bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak
pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang. Alasan yang paling
sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin
kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati
kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi,
tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan.
Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu. Banyak
perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi
tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap
pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang. Banyak
yang mengatakan seorang masih melajang karena terlalu banyak memilih atau ingin
mendapat pasangan yang sempurna sehingga sulit mendapatkan jodoh. Pernikahan
adalah untuk seumur hidup. Rasanya tidak mungkin menghabiskan masa hidup kita
dengan seorang yang tidak kita cintai. Lebih baik terlambat menikah daripada
menikah akhirnya berakhir dengan perceraian. Lajang pun lebih mempunyai waktu
untuk dirinya sendiri, berpenampilan lebih baik, dan dapat melakukan kegiatan
hobi tanpa ada keberatan dari pasangan. Mereka bebas untuk melakukan acara
berwisata ke tempat yang disukai dengan sesama pelajang. Pelajang biasanya
terlihat lebih muda dari usia sebenarnya jika dibandingkan dengan teman-teman
yang berusia sama dengannya, tetapi telah menikah. Seringkali, pelajang juga
menjadi sasaran keluarga untuk dicarikan jodoh, terutama bila saudara sepupu
yang seumuran telah menikah atau adik sudah mempunyai pacar. Sementara orangtua
menginginkan agar adik tidak melangkahi kakak, agar kakak tidak berat jodoh.
Sumber :
·
Adhim, Mohammad Fauzil.(2002).Indahnya Perkawinan Dini.Jakarta: Gema
Insani Press (GIP)
·
Killingstone, Dr. Patrick dan Dr.
Margareth Cornellis sex and love guide to teenagers