Tulisan 1
Konsep Sehat.
Berabad-abad
lalu, sehat diartikan sebagai kondisi yang normal dan alami. Sehat sendiri
bersifat dinamis yang statusnya terus menerus berubah. Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari
sering dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Sehat yaitu suatu kondisi yang bebas dari berbagai
jenis penyakit baik secara fisik, mental, maupun social. Secara umum, ada
beberapa definisi sehat yang dapat dijadikan sebagai acuan :
- Menurut
WHO, sehat adalah keadaan keseimbangan yang sempurna, baik fisik, mental
dan sosial, tidak hanya bebas dari penyakit dan kelemahan.
- Menurut
Parson, sehat adalah kemampuan optimal individu untuk menjalankan peran
dan tugasnya secara efektif.
- Menurut Undang-Undang Kesehatan RI No. 23 Tahun 1992, Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
- Menurut White (1977), Sehat adalah suatu keadaan di mana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
- Menurut Pepkin’s, Sehat adalah suatu keadaan keseimbangan yang dinamis antara bentuk tubuh dan fungsi yang dapat mengadakan penyesuaian, sehingga dapat mengatasi gangguan dari luar.
- Pengertian sehat menurut UU Pokok Kesehatan No. 9 tahun 1960, Bab I Pasal 2 adalah keadaan yang meliputi kesehatan badan (jasmani), rohani (mental), dan sosial, serta bukan hanya keadaan bebas dari penyakit, cacat, dan kelemahan.
Sumber :
Etjang, Indran, dr.
(2000). Ilmu Kesehatan Masyarakat.
Jakrta. PT. Citra Aditya Bakti.
Sejarah Perkembangan Kesehatan
Mental
Kesehatan mental? jika mendengar dua kata tersebut, mungkin
banyak orang yang belum mengerti apa itu kesehatan mental dan bagaimana asal
usul atau sejarahnya sampai ada pembelajaran tentang kesehatan mental khususnya
bagi ilmu psikologi.
“Mental” adalah
sesuatu yang tidak dapat dengan jelas terlihat oleh kasat mata. Sedangkan
gangguan fisik dapat dengan mudah kita lihat dan dapat dengan mudah terdeteksi.
Individu yang terkena gangguan kesehatan mental sangat sulit untuk diketahui,
bahkan bagi orang terdekatnya sekalipun. Karena orang-orang yang terdekatnya
hanya menganggap hal itu sebagai hal yang biasa, bukan sebagai gangguan.
Di negara kita khususnya masyarakat Indonesia, masalah
kesehatan mental sampai saat ini belum terlalu mendapatkan perhatian yang
serius. Semua itu dikarenakan taraf pendidikan yang masih beragam dan budaya
yang beragam pula sehingga membawa dampak kurangnya kepekaan masyarakat akan
pentingnya kesehatan mental.
Berikuit ini
perkembangan kesehatan mental dari tahun ke tahun :
a) Gangguan mental tidak dianggap sebagai
sakit
·
Tahun 1600 dan sebelumnya.
Dukun asli Amerika ( Indian ), sering
juga disebut sebagai “penyembuh” orang yang mengalami gangguan mental dengan
cara memanggil kekuatan supranatural dan menjalani ritual. Pandangan masyarakat
menganggap orang yang mengalTamu gangguan mental adalah karena dimasuki oleh
roh-roh yang ada disekitar
·
Tahun 1692.
Sejarah kesehatan mental di Eropa,
khususnya inggris agak sedikit berbeda sebelum abad ke 17 orang gila disamakan
dengan penjahat atau kriminal, sehingga mereka dimasukan kedalam penjara John
Locke ( 1690 ) dalam tulisannya yang berjudul An Essay Concerning Understanding
, menyatakan bahwa terdapat derajat kegilaan dalam diri setiap orang yang
disebabkan oleh emosi yang memaksa orang untuk memunculkan ide-ide yang salah
atau tidak masuk akal secara terus-menerus. Kegilaan adalah ketidakmampuan akal
untuk mengeluarkan gagasan yang berhubungan dengan pengalaman secara tepat.
b)
Gangguan mental dianggap sebagai sakit
·
Tahun 1724
Pendeta Cotton Mather ( 1663-1728 )
memathakan yang hidup dimasyarakat berkaitan dengan sakit jiwa dengan memajukan
penjelasan secara fisik mengenai sakit jiwa itu sendiri.
·
Tahun 1812
Benjamin Rush ( 1745-1813 ) menjadi
salah satu pengacara mula-mula yang menangani masalah penanganan secara
menusiawi untuk penyakit mental dengan publikasinya yang berjudul Medical
Inquiries and Observations Upon Disease of the Mind . ini merupakan buku teks
psikiatri Amerika pertama.
·
Tahun 1843
Kurang lebih terdapat 24 rumah sakit,
tapi hanya ada 2.561 terpat tidur yang tresedia untuk menangani penyakit mental
di Amerika Serikat.
·
Tahun 1909
Sigmund Freud mengunjungi Amerika dan mengajar
psikoanalisa di Universitas Clark di Worcenter, Massachusetts.
·
Tahun 1920-an
Komite nasional untuk mental Higiene menghasilkan
satu set model undangan-undang komite yang dimsukan kedalam aturan pada
beberapa negara bagian.kimite juga membantu penelitian-penelitian yang
bberpengaruh pada kesehatan mental, penyakit mental dan tratmen yang membawa
perubahan nyata pada sistem perwatan kesehatan mental.
·
Tahun 1960-an
Obat-obat antipsikotik konventional,
seperti haroperidol digunakan pertama kali digunakan untuk mengntrol
simtom-simtom yang positif ( nyata ) pada penderita psikosis, yang memberikan
ukuran yang nyata dan penting karena membuat pasien tenang.
c)
Gangguan mental dianggap sebagai bukan
sakit
·
Tahun 1961
Thomas Szasz membuat tulisan yang
berjudul The Myth og Mental Illness, yang mengemukakan dasar teori yang
menyatakan bahwa “ sakit mental” sebenarnya tidaklah benar-benar “sakit”,
tetapu merupakan tindakan orang yang secara mental tertekan karena harus
bereaksi terhadap lingkungan.
·
Tahun 1970
Mulainya deinstitusionalisasi massal.
·
Tahun 1980
Munculnya perawatan yang terencana,
yaitu dengan opnbme dirumah sakit dalam jangka waktu yang pendek dan treatmen
masyarakat menjadi standar bagi perawatan penyakit mental.
Sumber :
Moeljono Notosoedirdjo,
Kesehatan Mental; Konsep dan Penerapan,
Malang: Universitas Muhammadiyah Malang, 2002.
Pendekatan Kesehatan
Mental
1. Orientasi Klasik
Menurut pandangan orientasi klasik, individu
yang sehat adalah individu yang tidak mempunyai keluhan tertentu, seperti
ketegangan, rasa lelah, cemas, rendah diri, atau perasaan tak berguna, yang
semuanya menimbulkan perasaan “sakit” atau “perasaan tak sehat”, serta
mengganggu efisiensi dan efektifitas kegiatan sehari-hari. Dalam orientasi
klasik ini juga bisa mengandung arti yang sempit karena kajian ilmu kesehatan
mental lebih diperuntukkan bagi orang yang mengalami gangguan dan penyakit
jiwa.
2. Orientasi Penyesuaian Diri
Pandangan yang digunakan sebagai landasan
orientasi penyesuaian diri adalah pendekatan yang menegaskan bahwa manusia pada
umumnya adalah makhluk yang sehat secara mental. Dengan pandangan ini penentuan
sehat atau sakit mental dilihat sebagai derajat kesehatan mental. Selain itu,
berdasarkan orientasi penyesuaian diri, kesehatan mental dipahami sebagai
kondisi kepribadian individu secara utuh. Penentuan derajat kesehatan mental
bukan hanya berdasarkan jiwanya tetapi juga berkaitan dengan proses pertumbuhan
dan perkembangan individu dalam lingkungannya. Kesehatan mental seseorang
sangat erat kaitannya dengan tuntutan-tuntutan masyarakat tempat dimana
individu hidup, masalah-masalah hidup yang dialami, peran sosial dan
pencapaian-pencapaian sosialnya.
Dalam
penyesuaian diri sehari-hari terdapat suatu pola dasar penyesuain diri
misalnya, seorang anak membutuhkan kasih sayang dari orang tuannya yang selalu
sibuk. Dalam situsi itu anak akan frustasi dan berusaha menemukan pemecahan
yang berguna menggurangi keteganggan antara kebutuhan akan kasih sayang dengan
frustasi yang dialami. Boleh jadi suatu saat upaya yang dilakukan itu mengalami
hambatan. Akhirnya ia akan beralih kepada kegiatan lain untuk mendapatkan kasih
sayang yang dibutuhkannya misalnya, dengan menghisap-hisap ibu jarinnya
sendiri.
3. Orientasi Pengembangan Potensi
Menurut pandangan ini, kesehatan mental terjadi
bila potensi-potensi kreatifitas, rasa humor, rasa tanggung jawab, kecerdasan,
kebebasan bersikap dapat berkembang secara optimal sehingga mendatangkan
manfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungan disekitarnya. Individu dianggap
mencapai taraf kesehatan mental, bila ia mendapatkan kesempatan untuk
mengembangkan potensialitasnya menuju kedewasaan sehingga dapat dihargai oleh
orang lain dan dirinya sendiri.
Individu yang sehat mental adalah individu yang dapat dan mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk kegiatan yang positif-konstruktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. Pemanfaatan dan pengembangan potensi ini dapat dipergunakan dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari.
Individu yang sehat mental adalah individu yang dapat dan mampu mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang ada pada dirinya untuk kegiatan yang positif-konstruktif, sehingga dapat meningkatkan kualitas dirinya. Pemanfaatan dan pengembangan potensi ini dapat dipergunakan dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari.
Sumber :
Schultz, D.Psikologi Pertumbuhan
: model – model kepribadian sehat. Yogyakarta: kanisius, 1991.
Tulisan 2
Teori Kepribadian Sehat
Apakah yang dimaksud
dengan kepribadian yang sehat?bagaimana sifat-sifat orang yang memiliki
kepribadian yang sehat?dan apakah anda adalah pribadi yang sehat?
Kepribadian
adalah kata yang begitu umum dipakai di dunia Psikologi, kepribadian seseorang
bisa dinilai dari kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari berbagai orang
dalam berbagai keadaan. Untuk definisi kepribadian hampir bisa dikatakan tidak
ada suatu kesepakatan definisi dari keseluruhan pandangan yang pernah
dilontarkan. Sehat merupakan bagian dari harta manusia yang tak ternilai
harganya. Sehat merupakan anugerah dari Sang Maha Pencipta untuk makhluk hidup
melakukan perbuatan mulia sehingga sehat dapat di pandang indah untuk selalu
disandang oleh individu yang sadar akan hal tersebut.
a. Aliran Psikoanalisa
Menurut teori psikoanalitik
Sigmund Freud, kepribadian
terdiri dari tiga elemen. Ketiga unsur kepribadian itu dikenal sebagai Id, Ego,
dan Superego, yang bekerja sama untuk menciptakan perilaku manusia yang
kompleks. Aliran psikoanalisa melihat manusia dari sisi negatif, alam bawah
sadar (id, ego, super ego), mimpi dan masa lalu. Aliran ini mengabaikan Potensi
yang dimiliki oleh manusia. Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis
dan pengalaman-pengalaman dini. Id merupakan system kepribadian yang asli. Id
merupakan segala sesuatu yang diwariskan dari lahir, termasuk insting-insting.
Ego merupakan kebutuhan-kebutuhan yang timbul karenma organism memerlukan
transaksi yang sesuai dengan kenyataan, sedangkan superego merupakan perwujudan
internal dari nilai-nilai dan cita-cita tradisional masyarakat sebagaimana
diterangkan kepada orangtua kepada anak, dan dilaksanakan dengan cara
memberinya hadiah atau hukuman. Tetapi dengan adanya superego tersebut isu bisa
menyebabkan gangguan kesehatan mental. Kenapa begitu karena apabila superego
jauh lebih dominan keinginan orangtua dari pada keinginan anak, maka anak
tersebut dapat menjadi agresif karena sifat yang telah ditanamkan oleh orang
tuanya tersebut.
Menurut Freud, masyarakat memiliki fungsi untuk meregulasi
insting mati dan membantu orang-orang menyublimasikan-nya, sehingga energi
agresif berubah menjadi perilaku yang dapat diterima atau bermanfaat. Misalnya,
Freud yakin bahwa di balik kreasi artistik atau inovatif adalah sublimasi
(perubahan wujud) dari energi agresif (atau seksual).
b. Aliran Behavioristik
Behaviorisme
sebuah aliran dalam psikologi yang didirikan oleh John B. Watson Pada
tahun 1913. Behaviorisme merupakan aliran revolusioner, kuat dan berpengaruh,
serta memiliki akar sejarah yang cukup dalam. Behaviorisme lahir sebagai reaksi
terhadap introspeksionisme ( yang menganalisis jiwa manusia berdasarkan laporan
- laporan subjektif ) dan juga psikoanalisis ( yang berbicara tentang alam
bawah sadar yang tidak tampak ). Behaviorisme tidak setuju dengan
penguraian jiwa ke dalam elemen seperti yang dipercayai oleh strukturalisme.
Berarti juga behaviorisme sudah melangkah lebih jauh dari fungsionalisme yang
masih mengakui adanya jiwa dan masih memfokuskan diri pada proses - proses
mental.
Behaviorisme
ingin menganalisis bahwa perilaku yang tampak saja yang dapat diukur,
dilukiskan, dan diramalkan. Behaviorisme memandang pula bahwa ketika
dilahirkan, pada dasarnya manusia tidak membawa bakat apa - apa. Manusia akan
berkembang berdasarkan stimulus yang diterimanya dari lingkungan sekitarnya.
Lingkungan yang buruk akan menghasilkan manusia buruk, lingkungan yang baik
akan menghasilkan manusia baik. Kaum behavioris memusatkan dirinya pada
pendekatan ilmiah yang sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari
kamus ilmiah mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti
sensasi, persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh
kedua pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif.
c. Aliran Humanistik
Humanistik mulai muncul sebagai sebuah gerakan besar
psikologi dalam tahun 1950-an. Aliran humanistik merupakan konstribusi dari
psikolog-psikolog terkenal seperti Gordon Allport, Abraham Maslow dan Carl
Rogers. Menurut aliran humanistik kepribadian yang sehat, individu dituntut
untuk mengembangkan potensi yang terdapat didalam dirinya sendiri. Bukan saja
mengandalakan pengalaman-pengalaman yang terbentuk pada masa lalu dan
memberikan diri untuk belajar mengenai suatu pola mengenai yang baik dan benar
sehingga menghasilkan respon individu yang bersifat pasif. Humanistik tertuju pada masalah bagaimana tiap
individu dipengaruhi dan dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang mereka
hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Prinsip- prinsip belajar humanistik:
· Manusia mempunyai belajar alami
· Belajar signifikan terjadi apabila materi
plajaran dirasakan murid mempuyai relevansi dengan maksud tertentu
· Belajar yang menyangkut perubahan di dalam
persepsi mengenai dirinya.
· Tugas belajar yang mengancam diri ialah lebih
mudah dirasarkan bila ancaman itu kecil.
· Bila bancaman itu rendah terdapat pangalaman
siswa dalam memperoleh cara.
· Belajar yang bermakna diperolaeh jika siswa
melakukannya.
· Belajar lancer jika siswa dilibatkan dalam
proses belajar.
· Belajar yang melibatkan siswa seutuhnya dapat
memberi hasil yang mendalam.
· Kepercayaan pada diri pada siswa ditumbuhkan
dengan membiasakan untuk mawas diri.
· Belajar sosial adalah belajar mengenai proses
belajar
Sumber :
Alwisol. (2005) Psikologi
Kepribadian. Malang : Penerbit Universitas Muhammadyah Malang.
Schultz, D. (1991). Psikologi
Pertumbuhan : Model-model Kepribadian Sehat. Alih bahasa : Yustinus. Yogya
: Kanisius
Tulisan 3
Penyesuain Diri dan Pertumbuhan
Penyesuaian
diri dalam bahasa aslinya dikenal dengan istilah adjustment atau personal
adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari
tiga sudut pandang, yaitu: penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation),
penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity), dan penyesuaian diri
sebagai usaha penguasaan (mastery) .Pada mulanya penyesuaian diri diartikan
sama dengan adaptasi (adaptation), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih
mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis.
Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus
beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut.
Menurut
Kartono (2000), penyesuaian diri adalah usaha manusia untuk mencapai harmoni
pada diri sendiri dan pada lingkungannya. Sehingga permusuhan, kemarahan,
depresi, dan emosi negatif lain sebagai respon pribadi yang tidak sesuai dan
kurang efisien bisa dikikis.
Ali
dan Asrori (2005) juga menyatakan bahwa penyesuaian diri dapat didefinisikan
sebagai suatu proses yang mencakup respon-respon mental dan perilaku yang
diperjuangkan individu agar dapat berhasil menghadapi kebutuhan-kebutuhan
internal, ketegangan, frustasi, konflik, serta untuk menghasilkan kualitas
keselarasan antara tuntutan dari dalam diri individu dengan tuntutan dunia luar
atau lingkungan tempat individu berada.
Pembentukan
Penyesuaian Diri
·
Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga merupakan lahan
untuk mengembangkan berbagai kemampuan, yang dipelajari dalam berbagai hal
seperti melalu bermain, sandiwara, interaksi dengan anggota keluarga, dan
pengalaman-pengalaman didalam keluarga. Oleh sebab itu, orangtua sebaiknya
jangan menghadapkan individu pada hal-hal yang tidak dimengerti. Keluarga juga
merupakan wadah pembentukan karakter individu, penyesuaian diri juga termasuk
di dalamnya.
·
Lingkungan Teman Sebaya
Sama seperti lingkungan keluarga,
lingkungan teman sebaya juga merupakan lingkungan yang sangat menentukan
individu dalam melakukan dan mengembangkan penyesuaian diri. Bila seorang anak
dapat dengan mudah menyesuaikan dirinya dengan lingkungan teman bermainnya, itu
merupakan salah satu alasan bahwa sebenarnya kesehatan mental individu
tersebut baik dan sehat
Pertumbuhan Personal
Manusia
itu disebut individu apabila pola tingkah lakunya bersifat spesifik dirinya dan
bukan lagi mengikuti pola tingkah laku umum. Ini berarti bahwa individu adalah
seorang manusia yang tidak hanya memiliki peranan-peranan yang khas didalam
lingkungan sosialnya, melainkan juga mempunyai kepribadian serta pola tingkah
laku spesifik dirinya. Kepribadian suatu individu tidak sertamerta langsung
terbentuk, akan tetapi melalui pertumbuhan sedikit demi sedikit dan melalui
proses yang panjang. Setiap individu pasti akan mengalami pembentukan karakter
atau kepribadian. Dan hal itu membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak
faktor yang mempengaruhinya terutama lingkungan keluarga. Hal ini disebabkan
karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih banyak
meluangkan waktu dengan keluarga. Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan
atau norma yang mana norma-norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam
pertumbuhan individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup
masyarakat pun terdapat norma-norma yang harus di patuhi dan hal itu juga
mempengaruhi pertumbuhan individu.
Dengan
adanya naluri yang dimiliki suatu individu, dimana ketika dapat melihat
lingkungan di sekitarnya maka secara tidak langsung maka individu akan menilai
hal-hal di sekitarnya apakah hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu
individu berada di dalam masyarakat yang memiliki suatu norma-norma yang
berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh
dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang
disiplin yang menerapkan aturan-aturan yang tegas maka lama-kelamaan pasti akan
mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang disiplin,
begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup
keluarga yang religius maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang
religius.
Terjadinya
perubahan pada seseorang secara tahap demi tahap karena pengaruh baik dari
pengalamaan atau empire luar melalui panca indra yang menimbulkan pengalaman
dalam mengenai keadaan batin sendiri yang menimblkan reflexions.
Faktor
yang mempengaruhi pertumbuhan individu, yaitu:
·
Faktor Biologis
Semua manusia normal dan sehat pasti
memiliki anggota tubuh yang utuh seperti kepala, tangan , kaki dan lainya. Hal
ini dapat menjelaskan bahwa beberapa persamaan dalam kepribadian dan perilaku.
Namun ada warisan biologis yang bersifat khusus. Artinya, setiap individu tidak
semua ada yang memiliki karakteristik fisik yang sama.
·
Faktor Geografis
Setiap lingkungan fisik yang baik akan
membawa kebaikan pula pada penghuninya. Sehingga menyebabkan hubungan antar
individu bisa berjalan dengan baik dan mencimbulkan kepribadian setiap individu
yang baik juga. Namun jika lingkungan fisiknya kurang baik dan tidak adanya hubungan
baik dengan individu yang lain, maka akan tercipta suatu keadaan yang tidak
baik pula.
·
Faktor Kebudayaan Khusus
Perbedaan kebuadayaan dapat mempengaruhi kepribadian
anggotanya. Namun, tidak berarti semua individu yang ada didalam masyarakat
yang memiliki kebudayaan yang sama juga memiliki kepribadian yang sama juga.
Sumber :
Sunarto & Hartono,
B. Agung. (1995). Perkembangan peserta
didik. Jakarta: Rineka Cipta Wahjosumidjo.
J.P.Chaplin (1972). ). Psikologi
Perkembangan. Jakarta; Penerbit, PT Gramedia